Berbagi Bekal Makanan

Suasana kelas langsung hening ketika punggung Maya telah menghilang dari balik daun pintu. Fiola memandangi kotak nasi yang merupakan bekal makannya hari ini. Bibirnya mengulum senyum. Terbayang oleh benaknya seorang anak perempuan yang setiap kali ia pulang sekolah selalu tampak di perempatan jalan. Menawarkan tisu-tisu yang dijualnya itu kepada pengendara sepeda roda dua pun roda empat yang terjebak lampu merah.

Tadinya Fiola juga hendak berlari ke kantin menikmati bekal makan yang dibawanya dari rumah. Untung saja ketika kedua telapak tangannya menyentuh permukaan kotak nasi, teringat wajah anak perempuan yang ditaksir umurnya tak jauh beda dengan dirinya.

“Dia jauh lebih membutuhkan makanan ini,” bisik Fiola kepada dirinya sendiri.

Dimasukkan kembali kotak nasinya ke dalam kantong plastik. Hatinya sudah mantap untuk membagikan bekal makanan yang dibawanya itu kepada anak perempuan yang kerap menjajakan tisu di perempatan jalan, tak jauh dari rumahnya. Fiola kembali tenggelam membaca buku cerita yang dibawanya dari rumah. Suasana kelas yang hening semakin membuatnya nyaman membaca sekaligus menikmati kesendirian.

Ketika bel pulang berbunyi. Bergegas Fiola memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Tak lupa dimasukkan pula kotak nasinya. Fiola mengulum senyum.

“Hari ini kamu bisa makan ayam,” katanya dalam hati.

Sebelum pulang, semua murid tak lupa mencium punggung tangan guru yang mengajar di kelas mereka. Tidak terkecuali Fiola. Ia juga mengucapkan salam yang kemudian dibalas dengan usapan lembut di puncak kepalanya oleh Bu Darti. “Hati-hati di jalan anak pintar,” ucap Bu Darti tersenyum ramah.

Fiola merespons dengan sebuah anggukan. Bergegas ia menyusuri trotoar. Matahari yang bersinar terik membuat langkah kakinya semakin cepat. Sesekali tangannya mengusap keringat yang berlelehan di sekitar wajah.

Sesampainya di perempatan. Celingukan Fiola mencari keberadaan anak perempuan sebayanya yang biasa menjajakan tisu. Diedarkan pandangan ke sekeliling. Dan matanya seketika berbinar ketika melihat seorang anak perempuan yang tengah berjalan dari satu mobil ke mobil lainnya yang sedang terjebak lampu merah tanpa memedulikan panasnya terik matahari di siang hari.

“Hei!” teriak Fiola melambaikan tangan.

“Mau beli tisu?” tanyanya berjalan mendekat ke tempat Fiola berdiri.

“Tidak. Aku hanya ingin memberimu ini,” ujar Fiola menyodorkan kotak nasi yang berwarna merah muda itu.

Arsip Cerpen di Indonesia