Darah Daging

Di saat para lelaki yang melamarku harus pulang dengan penolakan, Danaraja datang melamar. Dengan yakin Danaraja berkata bahwa dia memenuhi syarat yang kuajukan. Sementara ayahku yang memang dari awal sudah suka dengan Danaraja, segera saja menerima lamarannya. Sementara aku sendiri masih ragu untuk menjadi istri Danaraja. Aku butuh bukti. Aku ingin menguji seberapa baik akhlak yang dimilikinya, dan juga seberapa luas pengetahuannya. Namun saat itu malam sudah larut, akhirnya diputuskan bahwa ia akan kembali lagi malam selanjutnya.

Petang belum lama datang, namun hujan sudah mengguyur riang daratan yang pasrah. Aku memerhatikan Wisrawa dengan sungguh-sungguh. Aku merasa ada perasaan aneh yang muncul dari dalam hatiku. Malam semakin terkikis termakan waktu. Kami hanyut dalam perbincangan yang menarik. Aku dibuat kagum dengan apa yang Wisrawa bincangkan. Aku hanyut tenggelam dalam pengetahuan yang tersampaikan lewat ucapannya. Baru kali ini aku menemukan pria yang sepertinya. Apa yang ia ucapkan benar-benar baru aku dengar kali ini. Tanpa sadar, tangan Wisrawa menyenggol gelas di meja dan isinya tumpah di pakaianku. Wisrawa lantas mengusap-usap bagian pahaku yang basah. Dengan spontan aku memegang tangannya, hendak menolak. Mata kami saling mengadu. Hujan lebat dari balik gelap jendela menjadi saksi perihal hubungan badan yang kami lakukan malam itu.

***

Setiap perbuatan pasti manuai hasilnya. Selain menanggung murka dari orangtuaku, aku juga harus menanggung malu dan penyesalan. Aku yang pada mulanya dijodohkan dengan Danaraja, kenyataannya malah jatuh ke pelukan Wisrawa. Aku sendiri mengaku lalai. Ibarat nasi telah menjadi bubur. Begitu pula dengan janin yang kukandung. Sudah jelas itu merupakan anak Wisrawa. Sementara ayahku tidak setuju jika aku menikah dengan Wisrawa. Ayahku tetap berpendirian agar aku menikah dengan Danaraja. Namun aku terpaksa melanggar pinta orangtuaku karena selain aku tak mencintai Danaraja, aku sudah terlanjur mengandung anak Wisrawa.

Aku merasakan cinta kasih Wisrawa padaku begitu besar. Aku merasa nyaman dan sama sekali tak menyesal karena telah menjadi istrinya. Seiring berjalannya waktu, aku melahirkan bayi yang kukandung. Namun ada hal lain yang membuat hatiku sedih tak keruan. Sesuatu yang dimulai dengan tidak benar, ternyata hasilnya juga kurang baik. Anak pertamaku yang kami beri nama Rahwana terlahir tidak seperti bayi pada umumnya. Hanya anak terakhirku Surpanaka yang terlahir normal.

Arsip Cerpen di Indonesia