Sebagai ibu, aku sangat dekat dengan anak-anakku terutama Rahwana. Meskipun banyak yang mencibir bahwa Rahwana adalah anak haram, buah dari hubungan dosa sebelum menikah, aku tidak memedulikan itu. Aku mencintai semua anakku tulus tanpa kurang sedikit pun. Karena tak mau terbelenggu dalam cemoohan orang, aku acuh dengan mereka yang mengutuk dan menggunjing keluargaku. Jika bisa, ingin sekali aku berkata lantang di hadapan mereka semua agar tidak usah mengurusi urusan rumah tangga orang. Perkara keluargaku salah atau benar, aku hanya berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Semua kuserahkan sepenuhnya pada Tuhan. Bukan kepada mereka yang bisanya hanya menghakimi padahal mereka juga tak luput dari dosa.
Yang tertanam dari masa lalu itu rupanya tertuai juga. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah Rahwana. Jika dulu Wisrawa merebutku dari Danaraja, aku harus menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa Rahwana, anakku yang sangat aku sayangi, merebut istri orang. Sebagai ibu, aku sudah memperingatkan bahwa ia telah melakukan hal yang salah. Namun aku selalu terbentur dengan keteguhan anakku dan juga masa laluku.
“Aku mencintainya, Bu. Rasa cintaku kepada Sinta lebih besar dari Rama. Aku hanya memperjuangkan cintaku, Bu. Apa aku salah?” ucapnya padaku meyakinkan.
Setelah mendengar itu, sebagai ibu, aku hanya bisa menggunakan kedua tanganku yang sudah keriput untuk menengadah pada Tuhan. Memohon agar apa yang aku dan suamiku tanam dulu, jangan dipetik oleh anakanakku. Biarlah aku dan suamiku saja yang menanggung balasannya. Dan yang terpenting, semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk Rahwana. Karena aku merasa akan ada hal buruk yang menimpa anakku terkasih, Rahwana. Dan semoga firasat itu tidak benar.
Anggoro Kasih, lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di komunitas sastra Kamar Kata. Dapat dihubungi di kertaskusam21@yahoo.com dan WA 085889778824.