Melati Oh Melati

Aku mendengus tak acuh. Mak Hindun terkikik geli, disusul gelak tawa para pengunjung. Aku hafal betul siapa saja pengunjung yang paling sering mendatangi lokalisasi Sedap Malam ini, dan juga menjadi pengunjung tetap kedai tuak Mak Hindun. Kang Somad, Kang Gafur, termasuk Kang Darmadi kepala keamanan lokalisasi.

“Bisa-bisanya bapakmu memberi nama itu,” cetus Kang Somad sembari mengerling padaku. “Kalau kaupoles bibirmu itu dengan gincu, mungkin akan ada lelaki yang mau menggerayangimu malam ini.”

Serentak terdengar tawa membahana mendengar lelucon Kang Somad. Aku diam saja, sengaja mengacuhkan ledekannya. Tetapi rupanya, lelaki itu semakin kurang ajar dengan mulutnya. Rasanya ingin kutembus perut buncitnya dengan pisau di balik jaketku agar ia diam. Tapi sebisa-bisanya, kuredam keinginan itu.

“Kau yakin ada yang doyan dengannya, Somad?” celetuk Kang Gafur, ditimpal tawa bergelak Kang Darmadi dan Mak Hindun. “Lihat muka anak Abdullah ini, kurasa mirip betul dengan ibunya.”

“Anak ini lumayan juga,” cetus Mak Hindun membelaku. “Kalau aku masih muda, aku mau jadi istrinya.”

“Tapi sayang, kau sudah tua,” tangkis Kang Somad dan lagi-lagi mereka tergelak bersama. “Dan namanya adalah Melati. Nama ibunya sendiri.”

Raut muka Mak Hindun serta merta berubah. Kang Gafur dan Kang Darmadi berpura-pura tak mendengar ucapan Kang Somad. Tiga orang itu adalah pekerja paling lama di lokalisasi Sedap Malam ini. Dari perubahan air muka mereka, aku menangkap sesuatu yang ditutupi.

“Ada apa memangnya dengan perempuan bernama Melati?” tanyaku hati-hati.

“Betul kau belum tahu?” Lelaki itu bertanya balik. Matanya mengerjap dan alisnya seakan mempermainkan rasa penasaranku.

“Sudahlah, Somad,” bujuk Mak Hindun agar lelaki itu tak melanjutkan ucapannya.

“Sudah terlambat,” balas Kang Somad dengan sorot mata sinis ke arahku. “Anak ini perlu tahu rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh bapaknya.”

“Katakan saja,” sentakku tak sabar. “Jangan bertele-tele.”

“Ibumu memang pelacur. Bapakmu menikahinya saat ia sudah mengandungmu lima bulan,” jawabnya sambil memantik rokok yang baru dirogohnya dari saku. “Itulah kenyataannya. Kau boleh tanyakan itu pada Abdullah kalau kau tak percaya.”

Perkataan Kang Somad membuat darahku mendidih. “Siapa yang kaumaksudkan itu?” tanyaku dengan mata mendelik tajam, menatap mukanya dengan geram. “Ibuku bernama Maimunah. Bukan Melati.”

Arsip Cerpen di Indonesia