“Kau ini lugu atau dungu, heh?” ejek Kang Somad disusul kekeh pendek dari mulutnya. “Kukira kau sudah tahu riwayat itu dari mulut bapakmu dan mulut warga kampung ini. Bapakmu itu adalah pacar Melati, bekas ratu kecantikan di tempat ini.”
“Jaga mulutmu, bangsat tua!”
Kang Somad terdiam ketika kepalan tinjuku mendarat mulus di sudut bibirnya. Sorot mata, gurat keras tulang rahang, dan matanya yang menyorot tajam itu, cukuplah sebagai pertanda bahwa perkelahian dengannya tak mungkin bisa kuhindari. Ia memburuku dengan bangku kayu dan berniat menghantamku. Aku berkelit dan menantangnya di tanah lapang, di depan kedai Mak Hindun.
Aku mencabut pisau yang terselip di pinggang. Jerit histeris para penghuni lokalisasi tak membatalkan niatku untuk memberi lelaki itu pelajaran berarti. Kusabetkan pisau ke lehernya. Kutikamkan pula ke dadanya. Darah segar menyembur. Lelaki itu terkapar dan aku berdiri dengan tubuh gemetar.
***
Atas apa yang telah kuperbuat, sang jaksa mengganjarku tujuh tahun penjara. Bapak datang menjenguk setelah satu pekan aku menjalani masa hukuman. Ia tersenyum muram ketika kuceritakan semua musababnya. Ia memandangiku lama sekali, seakan-akan menakar akibat yang akan kuterima apabila ia menyampaikan cerita sebenarnya.
“Ini terakhir aku bertanya, apa arti nama itu?” tanyaku putus asa. “Apa benar aku ini anak pelacur?”
“Kunamai kau Melati agar kau selalu ingat dari mana kau berasal,” kata lelaki itu dengan tatapan dingin. “Sekarang kau telah membuktikan kalau kau adalah lelaki sejati, Melati. Kau memang anak pelacur, tapi bukan berarti kau bisa dihina! Di neraka sana, ibumu pasti bangga!”
Di dalam jeruji, aku hanya bisa ternganga. Tak ada hasrat lagi untuk bertanya. Lantai yang kupijak seakan runtuh. Dinding penjara seakan melebur kemudian menguburku hidup-hidup. Aku terhenyak dalam kegamangan. Di luar jeruji, bapak tertawa. Aku berusaha menjangkau lehernya, mencoba mencekik batang tenggorokkannya, tapi tak bisa. Gema tawanya semakin lama semakin jauh, memantul berulang-ulang sepanjang lorong penjara. (*)
Adam Yudhistira. Buku kumpulan cerpennya “Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon” (Basabasi, 2017)