Masyarakat semakin ramai berdatangan ke lumbung pada Keuchik Nuh. Mereka mulai berbisik-bisik melihat isi ruangan 4×4 meter tersebut. Puluhan beras dengan logo berwarna jingga tersusun rapi, tak jadi hangus dimakan api. Pemandangan ini menjadi bara api baru yang tak terkata.
“Alhamdulillah, Allah masih sayang pada kita. Jika tidak ada yang melihat, beras raskin untuk masyarakat sudah pasti tidak jadi dibagikan bulan depan,” jelas Keuchik Nuh di hadapan warga tiba-tiba.
Setelah kejadian itu, Nek Daud bukannya insaf. Tingkah Nek Daud semakin menjadi-jadi. Sialnya, Setiap kali Nek Daud bertemu pandang dengan Keuchik Nuh, ia seperti melihat iblis. Pernah saat lewat di halaman kantor desa Nek Daud memukul Keuchik Nuh dengan balok seukuran pemukul kasti. Untung saja aparatur kampung dan staf masih mampu mencegah amuk Nek Daud dan Keuchik Nuh dapat diselamatkan. Kalau tidak, barangkali siang itu Keuchik Nuh akan mati. Di kesempatan yang lain, giliran kambing milik sekretaris kampung yang dijerat Nek Daud dengan tali.
Ah ya, dari sana semua kegilaan Nek Daud dimulai.
***
Awal Juni lalu aku pulang kampung. Niat hati bersama keluarga merayakan Idulfitri. Bertahun-tahun merantau terasa wajah gampong mulai berubah. Alih-alih naik sepeda motor sengaja kupinjam sepeda keponakan untuk berkeliling. Melihat sawah, ladang, ke rumah uwak, menikmati suasana yang begitu mewah ini.
Siang aku mengayuh sepeda melewati sawah, jalan pintas menuju ke rumah. Dan sial, ban sepeda bocor tertusuk kulit keong mas. Terpaksalah sepeda kudorong, sebab kalau memaksa tetap dinaiki tentu akan rusak juga pelak.
Kulihat laki-laki tua duduk di balai-bali depan rumah dekat sawah. Lama kulihat air mukanya. Aku tersirap! Sudah jatuh tertimpa tangga, aku bergumam. Laki-laki tua itu Nek Daud gila! Mau berlari aku sudah tak kuat lagi, kupaksa saja seramah mungkin sambil menyapa.
“Nek…”
Orang gila juga manusia, kalau kita baik-baik mana mungkin dia akan menyerang begitu saja?
“Piyoh dilee keunoe” Nek Daud memaksa sambil tangannya mengaut-ngautku, wajahnya sampai terangguk-angguk. Dia tersenyum!