Daripada dikejar pakai balok atau dibakar, aku berpikir, baik juga jika aku memilih mendekatinya untuk sekadar melepas lelah sambil menumpang berbagi duduk. Saat itu baru kuinsafi, ada borgol di kakinya. Sekali lagi tersirap darahku. Tetapi lari sekarang pun akan kelihatan seperti pecundang. Jadi aku duduk diam di dekatnya. Itulah pertemuan pertamaku yang sebenarnya dengan tokoh terkenal di seluruh kampung. Selama ini hanya terhubung melaui cerita-cerita suram saja.
“Lihatlah, bahkan keluargaku juga memborgolku agar aku tidak bisa ke mana-mana. Menganggapku gila dan menyakitiku,” katanya.
Lalu aku agak mendekat ke arahnya, dia menyambung lagi ceritanya. Dia bersungut-sungut bercerita. Dia berkata, hampir saja dapat membunuh tikus bermata merah jelmaan iblis. Ia juga masih kecewa dan merasa marah pada warga yang tak mempercayainya bahkan sampai menggagalkan rencananya membunuh hewan pengerat tersebut.
“Kau tahu, yang satu itu ada di lumbung padi Keuchik Nuh. Tikusnya banyak sekali, hampir sebesar karung goni. Aku bisa melihatnya Nak, sungguh aku tidak berbohong.”
Aku terdiam mengingat cerita pembakaran lumbung hampir dua tahun yang lalu.
Tiba-tiba dia menempelkan tangannya di telingaku lalu berbisik,
“Mereka semua gila, sengaja membiarkan tikus itu beranak-pinak di kantor desa. Dasar pemuja iblis.”
“Siapa mereka Nek?”
“Keuchik Nuh dan kawan-kawannya!”
Azharul Husna, bekerja di Kontras Aceh. Tinggal di Banda Aceh.