Saksi

“Sa sa saya mau buang air pagi itu.”

“Sekadar buang air?” lanjut si aparat.

“Benar, buang air. Tidak lebih, sungguh saya berani bersumpah.”

“Kenapa tidak buang air di rumah?”

“Maaf, tapi jamban di rumah sedang penuh; sedang rusak.”

Tatapan aparat itu berubah; semacam menatap penuh curiga kepada si saksi. “Jadi bapak hanya kebetulan menemukan mayat itu dan seandainya bapak tidak buang air pagi itu, bapak tak akan melapor. Benar begitu ya? Tidak lebih?”

Saksi itu hanya mengangguk-angguk, semakin terlihat pasrah, takut, dan cemasnya.

Aku berusaha berbaur dengan orang-orang desa; memasang ketidaktahuan pada wajah dan cukup menjaga jarak—meski ternyata cukup sulit berbuat seolah-olah tak tahu itu. Aku tahu ini mengerikan dan sejujurnya aku alergi dengan segala hal yang mengerikan, setidaknya untuk saat ini. Sebab aku yakin kasus ini akan menjadi lebih panjang. Dalam artian, kasus-kasus serupa lain pasti akan bermunculan. Aku sangat yakin itu. Bahkan keyakinan itu tak bertambah ketika kulihat saksi itu dibawa ke dalam mobil aparat dan kelak pulang dalam keadaan membisu.

“Sampai sini biar kami; petugas yang telah diberi kewenangan legal untuk menangani kasus ini. Jangan lagi takut dan cemas dan jangan sungkan untuk melapor jika kelak ada penemuan mayat lagi. Saksi kami bawa ke kantor hanya untuk mendalami kasus. Perlu waktu dan kami butuh banyak informasi. Karena mungkin saja saksi itu tahu lebih banyak hanya saja takut dituduh yang tidak-tidak. Bisa saja begitu kan? Tapi tenang, tenang saja, kami cukup profesional menangani kasus-kasus seperti ini,” kata aparat lain. Senyumnya sumringah dan ia berkata sambil memilin-milin kumisnya yang lebat.

“Atau barangkali, ada orang yang punya informasi lebih? Ayo, jangan takut, kami ini cukup profesional,” lanjutnya. Tapi orang-orang hanya menggeleng, termasuk aku.

Jelas aku tak akan mengaku, aku telah berjanji untuk menjaga jarak dan untuk mayat perempuan itu, aku akan mendoakannya sepanjang waktu sambil minta maaf karena tak bisa berkata sesungguhnya, setidaknya untuk saat ini.

Dua hari berselang, konon saksi itu baru pulang. Sorot matanya berubah dan jika ada yang bertanya soal kasus penemuan mayat itu, ia tak banyak menjawab. Ia selalu bilang, “Maaf, maaf, saya sudah agak lupa. Tapi saya dipesani aparat bahwa kasus itu sudah berada di tangan yang tepat, tidak perlu diulik-ulik lagi supaya tidak menimbulkan kegemparan.”

Arsip Cerpen di Indonesia