Tapi aku sudah menebak. Ini semacam dongeng klasik yang dibacakan agar anak-anak tertidur. Dan memang orang-orang desa seperti tertidur terhadap kasus penemuan mayat itu pada akhirnya. Bahkan seminggu setelahnya, situasi desa kembali seperti semula dan tak ada lagi yang berbicara soal kasus itu. Seolah-olah dilupakan begitu saja tapi aku yakin sesungguhnya tak ada yang benar-benar hilang dari dalam kepala. Barangkali mereka hanya takut; berusaha mengubur peristiwa itu dan baru dikeluarkan jika kelak situasi sudah memungkinkan.
Tapi aku, setelah kejadian pertama di jembatan itu justru semakin tertarik dan diam-diam pergi ke sana setiap sore. Tak ada yang curiga sebab aku selalu memasang wajah tidak tahu dan tidak peduli. Berusaha bersikap biasa seperti orang-orang lain. Lagipula siapa yang peduli atau curiga terhadap orang sepertiku?
Tak butuh waktu lama untuk kejadian kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dalam tiga bulan, dari balik semak-semak aku melihat dua orang yang sama melemparkan seonggok tubuh; kadang perempuan, kadang laki-laki dan semua dalam keadaan tak bernyawa. Kengerian itu benar-benar singkat dan melihat itu membuatku semakin paham makna mengerikan.
Tapi pembaca yang baik, pada akhirnya hal-hal mengerikan itu tetap saja mengerikan. Meski aku selalu berpura-pura tak tahu dan bersikap biasa, sesungguhnya tak ada yang benar-benar hilang dari dalam kepala. Kengerian itu telah menumpuk. Lagipula siapa yang tahan melihat mayat-mayat dilemparkan dari atas jembatan namun tak bisa berbuat sesuatu pun? Maka kutinggalkan pesan tertulis ini, kumasukkan dalam peti kecil ,dan kukubur baik-baik. Jika kelak kebetulan ada yang membaca, ketahuilah bahwa masa-masa mencekam dan mengerikan ini memang pernah ada. Jangan sekali-kali dilupakan dan jangan sekali-kali coba mengembalikan masa-masa ini. Meski sebenarnya aku sadar bahkan tanpa tambahan apa pun politik sudah mengerikan.
Maka aku hanya bisa meninggalkan pesan ini. Untuk 10 tahun atau 20 tahun atau 30 tahun atau entah berapa pun ke depan. Sebab politik selalu tak menentu dan membingungkan, itu kodrat tapi kukira jangan sampai berlarut-larut.
***