Pabrik di Seberang Jalan

Istri Nitiarjo datang dari dalam membawa kopi dan singkong goreng untuk mereka. “Saya seorang petani. Kakek dan ayah saya juga demikian, entah bagaimana hidup kami bila tanah itu dijual.”

“Bapak bisa membuka usaha atau membeli tanah lain. Dengan uang segitu cukup untuk membeli lahan di tempat lain yang lebih murah.” imbau Gunawan.

“Saya tidak bisa berdagang, Pak. Saya hidup dan menafkahi keluarga dari tanah leluhur yang subur. Saya ragu bisa menggarap tanah lain sedang tanah warisan telah lama menopang kebutuhan kami sekeluarga.”

Kedua orang itu berpandangan seolah menahan amarah.

“Baiklah, kami akan datang seminggu lagi. Pikirkan baik-baik penawaran kami, Nitiarjo.” pungkasnya.

Dusun mendadak sunyi ketika malam layaknya kota mati. Ramai hanya saat tetangga melangsungkan hajat. Meski begitu beberapa pria dewasa berjaga di pos menikmati kopi dan bergunjing pejabat daerah. Bupati mereka ditangkap KPK, rumahnya digeledah demi mencari barang bukti lain. Berita itu menambah daftar panjang pemimpin sebelumnya yang culas, serakah dan tak peduli nasib mereka.

Nitiarjo jarang ikut kumpulan itu, angin malam membuat perut masuk angin dan meriang. Ia lebih senang mendengar ludruk di radio sambil memejamkan mata. Kabar pemuda dusun berpesta miras oplosan datang dari perangkat itu. Mereka tewas setelah terbakar zat kimia, meregang nyawa untuk selamanya. Salah satu korban selamat dibawa ke rumah sakit. Remaja itu bercerita bagaimana mereka menggelinjang mirip ulat bulu, memuntahkan isi perut dan buta.

Ia sama sekali tak membenci pabrik. Pabrik telah menyumbang pajak untuk membangun jalan dusun yang becek ketika musim hujan. Pabrik pula mengentaskan pemuda dusun dari kegiatan tak berguna, judi, mabuk-mabukan di pos ronda atau menggoda gadis kampung sebelah. Nitiarjo hanya tak sanggup berpisah dengan tanah warisan leluhurnya. Tanah yang dulu  direbut susah-payah dari tangan penjajah. Tanah yang bersimbah darah pertempuran para pejuang.

“Mau apa kau kemari!? Aku tak butuh belas kasihan. Sudah dibayar berapa kau sama pengusaha busuk itu?” bentak Nitiarjo.

“Sabar, Jo. Aku kemari bukan untuk debat kusir namun ingin membantu wargaku yang kesusahan. Jika kau marah begini sama saja tak menghargai tamu.”

“Aku tak bisa bermanis-manis dengan lintah darat sepertimu.”

Arsip Cerpen di Indonesia