Pabrik di Seberang Jalan

“Hormati aku, jelek tua begini aku lurahmu! Ya sudah jika kau masih emosi aku pulang dulu. Tapi ingat penawaran kami dulu.” tukasnya. Ia diam membiarkan tamunya pergi berlalu dari pintu.

Istrinya meringkuk di kasur dengan selimut. Nitiarjo tak tidur, keluar rumah sambil merokok. Langit angkasa bersih hanya ada beberapa bintang. Bulan bersinar terang tak menunjukan akan redup. Di pos suasana ramai pemuda melihat pertandingan sepak bola, sementara manula menjalankan bidak catur. Tak terlihat lurah mata duitan itu.

Nitiarjo sedikit dongkol menghadapi tabiatnya. Pungli sudah menjadi makanan sehari-hari lurah. Tidak ada uang, urusan mandek tak lancar, bahkan untuk mengurus surat tanda tangan dirinya. Tapi apa mau dikata, orang-orang terlanjur memilih penjahat sebagai pemimpin. Apalagi amplop darinya sudah melenakan warga kampung.

Ia berjalan terus menjelajahi kampung dengan napas hangat setelah mengisap tembakau beberapa jenak. Hawa dingin menjalari kulit meski mengenakan jaket tebal. Sepeda motor masuk area pabrik. Baju dan kopiah itu tak pernah dienyahkan Nitiarjo. Ia tak kaget jika pemilik pabrik mencuci otak pemimpin mereka.

Hitam. Semuanya hangus terbakar, tak bersisa. Gosong, baunya seperti bangkai binatang dilahap bara api. Nitiarjo melihat sawah miliknya seumpama Padang Kurusetra yang nyata. Lututnya bergetar seolah seluruh rusuknya rontok seketika. Ia menangis layaknya bayi merindukan belaian. Tangannya meraup tanah yang tertutup abu dan membalurkan ke wajahnya.

Kejadian itu seperti mimpi buruk yang tak pernah ia kira. Panen kali ini terancam gagal, para buruh tani bakal meminta bayaran dan yang ada di pikiran hanyalah Lurah. Tak ada yang melihat peristiwa itu. Semuanya cepat sekali. Saat itu ia masih bercinta dengan istrinya ketika salah satu warga mengetuk pintu. Nitiarjo terpaksa mengakhiri persenggamaan.

Pria paruh baya itu memakai sarung, bersama istrinya melihat api menjalar dan berusaha memadamkan dengan air sungai. Orang-orang membantu sebisanya agar tak melahap tanah lainnya. Untuk pertama kalinya ia bersedih dan bersusah hati. Meski di masa lalu ia pernah melakukan hal serupa, tak sengaja membakar lahan milik orang.

Ayahnya memberi kado pukulan rotan di punggung. Ibunya tak bisa berbuat apa-apa selain menyiapkan obat untuk lukanya. Nitiarjo tak bisa melupakan kejadian itu hingga kini. Ia hendak membawa abu tebu untuk dibawa pulang. Selain itu kartu nama Gunawan tak sengaja ia temukan.

 

Jeruk Macan, 9 April 2019

Mufa Rizal. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Api Ibrahim (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia