Sorrowful Month

Cerpen Silvia (Pontianak Post, 07 Juli 2019)

Sorrowful Month ilustrasi Pontianak Post (1)
Sorrowful Month ilustrasi Pontianak Post

Kebahagiaan selalu menjadi hal yang menyenangkan, sedangkan kebencian selalu menjadi hal yang menyakitkan. Sejak kecil, aku selalu merasakan kebahagiaan. Keluargaku sangat harmonis. Orang tuaku yang selalu memberiku kasih sayang yang melimpah. Hal-hal itu membuatku selalu bersyukur akan hidupku. Keluargaku adalah segalanya untukku. Namun, kebahagiaan yang aku rasakan selama ini tidak bertahan lama. Orang tuaku, orang yang selalu membuat hidupku menyenangkan kini meninggalkanku.

***

Bulan Februari selalu menjadi bulan yang sangat menyenangkan. Perayaan khas masyarakat Tionghua seperti Imlek dan Cap Go Meh akan dilaksanakan. Warna Merah yang merupakan ciri khas dari perayaan ini sudah menghiasi Kota Pontianak. Lampionlampion yang bergantungan kini sudah menghiasi Jalan Gajah Mada. Bagi keluargaku, perayaan Imlek sangat menyenangkan karena kami akan berkumpul bersama keluarga, memakai pakaian baru, dan mendapat angpao. Selain itu, ada hal yang lebih menyenangkan lagi. Aku dan ibu akan bersama-sama untuk membuat kue keranjang yang akan dibagikan kepada saudara kami.

“Stella, kamu akan ke Festival Cap Go Meh bersama Ibu atau temanmu?” tanya Ibu.

“Kemarin temanku telah mengajakku untuk menyaksikan festival ini minggu depan, tetapi aku rasa akan lebih menyenangkan menikmati festival ini bersama Ibu. Kita bisa melihat kembang api dan atraksi naga bersama-sama,” jawabku.

Ibu tersenyum mendengar jawabanku. Namun, kali ini Ayah tidak bisa ikut. Hal ini memang biasa terjadi. Ayah bekerja di luar negeri dan pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Kami akan menghabiskan waktu bersama Ayah ketika ia pulang ke Pontianak. Aku dan Ibu pun melanjutkan pembahasan kami sambil menikmati Chai Kue isi bengkuang kesukaan Ibu dan Che Hun Tiau kesukaanku. Mungkin karena terlalu senang, Ibu memakan Chai Kue lebih banyak dari yang biasanya ia makan.

Akhirnya, waktu yang aku tunggu-tunggu tiba. Hari ini, Festival Cap Go Meh akan dilaksanakan. Biasanya festival ini akan dilakukan di siang hari. Pagi ini, aku dan Ibu pergi untuk sarapan bubur pedas terlebih dahulu. Jarum jam sudah menunjukan pukul 11 siang. Aku dan Ibu bersiap-siap untuk menuju ke Jalan Gajah Mada. Saat kami tiba, terlihat orangorang telah membawa payung untuk melindungi diri dari sinar matahari yang terik.

Aku berjalan di samping Ibu yang sedang memegang payung. Jalan ini sudah dipenuhi orangorang. Di sisi-sisi jalan pun terlihat banyak pedagang kaki lima yang menjual minumanminuman dingin serta makanan ringan. Aku dan Ibu berdiri di bawah pohon besar dan bersiap untuk menyaksikan festival ini. Festival pun dimulai. Naganaga dengan berbagai ukuran dan warna mulai beratraksi. Arakan pakaian-pakaian unik serta bazaar makanan pun turut diadakan. Namun, di tengah keramaian itu, ada teriakanteriakan di seberang jalan. Aku dan Ibu pun menyeberangi untuk melihatnya. Tetapi, ketidakberuntungan menghampiri aku dan Ibu. Disaat Ibu berbalik, seorang perampok telah menabrak Ibu menggunakan sepeda motor. Aku langsung bergegas meminta pertolongan dan segera membawa Ibu ke rumah sakit.

Ibu kini sedang ditangani oleh dokter. Aku menunggu di luar sambil mencoba untuk menghubungi Ayah. Akhirnya setelah berulang kali mencoba, Ayah pun mengangkat teleponnya. Ayah sosok yang tegas dan keras terdengar sangat marah, kecewa sekaligus sedih. Kemudian, dokter keluar dan mengatakan bahwa ibu tidak dapat diselamatkan. Pikiranku kini kosong, aku tidak dapat berbuat apa-apa.

Besok hari, Ayah kembali ke Pontianak. Aku menceritakan hal yang terjadi. Ayah menyampaikan segala kekecewaanya terhadapku dan bertanya-tanya kenapa aku tidak menjaga ibu dengan baik. Sejak kejadian itu, aku merasakan hal yang aneh. Sikap Ayah berubah. Ia menjadi sosok yang berbeda. Tetapi sejak kejadian itu, aku tetap menjalankan hidupku seperti biasanya. Saat ini, aku tinggal sendiri dan sering sekali aku merasakan kesepian. Ayah tetap bekerja di luar negeri dan kini Ayah sangat susah untuk dihubungi. Hal ini membuatku marah.

Semenjak tinggal sendiri, aku harus melakukan berbagai hal sendiri, seperti melakukan pekerjaan rumah. Pagi ini, aku merasa tidak enak badan. Aku mencoba untuk menghubungi Ayah. Tetapi, Ayah memarahiku karna telah menganggu waktu ia bekerja dan mengatakan bahwa aku seharusnya jangan menjadi sosok yang lemah. Kemudian, karena takut akan terjadi sesuatu, aku akhirnya pergi ke rumah sakit untuk check-up. Ternyata aku harus di opname. Selama di rumah sakit, Ayah tidak menghubungiku dan bahkan tidak pulang untuk melihatku. Aku merasa Ayah bukan lagi Ayahku yang dulu. Sosok yang tegas dan keras namun masih memiliki sisi penyayang. Aku mulai membenci Ayah.

Setelah berminggu-minggu, aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Bulan pun terus berganti. Bulan Februari kini tak menyenangkan. Festival Cap Go Meh sekarang menjadi lebih menakutkan. Aku selalu teringat kejadian waktu itu. Aku selalu berusaha kuat untuk melupakannya. Aku menjalankan kehidupanku seperti biasanya. Suatu hari, aku mendengar dari pamanku bahwa Ayah sakit. Aku berusaha untuk menghubungi Ayah. Namun, Ayah selalu tidak mengangkatnya. Aku memang sudah jarang berkomunikasi dengan Ayah. Setiap aku menghubunginya ia selalu berkata bahwa aku menggangu ia bekerja. Sejak meninggalnya Ibu, aku sudah terbiasa beradu mulut dengan Ayah setiap kali aku dapat menghubunginya.

Saat aku berada di kampus, aku mendapat kabar bahwa Ayah meninggal. Aku tidak dapat menahan air mataku. Aku menyesal bahwa aku tidak benar-benar berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan Ayah . Selama ini Ayah selalu bekerja. Padahal mungkin saja Ayah melakukan itu karena ia juga merasakan kesepian.

Setelah mengurus pemakaman Ayah, aku menjalankan hidupku dengan penuh kesedihan. Ibu dan Ayah meninggalkanku. Kesedihan dan kesepian tetap menyelimuti hidupku. Sekarang, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Hidupku tetap berjalan seperti biasanya. Setelah berbulan-bulan aku baru tersadar bahwa selama ini aku hidup tanpa memikirkan bagaimana aku kan menghadapi masa depan. Kini aku menyadari bahwa selama ini Ayah sengaja untuk bekerja keras. Selama ini ia bekerja keras tanpa berhenti untuk aku dan selalu menjagaku dari jauh. Ia bekerja dan menyimpan uang tersebut untuk membayar segala kebutuhaanku di saat ia tidak akan ada di sisiku lagi.

Sejak saat itu, Aku sadar bahwa Ayah tidak membenciku. Ia sangat peduli denganku. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia