Diambang Kematian

Beberapa lelaki polisi, petugas keamanan dan pegawai gedung bergegas ke lantai delapan tempat dimana Mia akan melompat. Tetapi Mia telah mengunci pintu kantornya dari dalam. Dengan susah payah mereka berusaha membuka pintu itu.

“Kita dobrak saja!” perintah seseorang.

“Ayo, satu..dua..tiga…” Brak! Pintu belum terbuka.

“Aku khawatir kita terlambat. Petugas pemadam kebakaran belum sampai juga. Kalau mereka tentu bisa menjangkau wanita itu,” keluh seorang penolong.

“Ayo kita dobrak lagi!” katanya lagi.

Mia sudah melepaskan pegangannya. Tubuhnya terhuyung sesaat, lalu jatuh. Grafitasi bumi mulai bekerja menghisap tubuh mungilnya kebawah dan akan menghempaskannya ke lantai beton area parkir yang keras. Mia merasa bahwa tidak lama lagi ia akan terbebas dari beban masalah yang sedang menghimpitnya. Orang-orang menjerit dan berteriak!

Namun tiba-tiba… seorang lelaki berusia sekitar duapuluh tahun menyambar dan mencengkeram tangan Mia dengan sangat kuat, menahan tubuhnya agar tidak  jatuh ke bawah. Lelaki itu adalah Rio, seorang karyawan cleaning service yang bekerja di gedung perkantoran itu. Dengan cepat ia keluar dari jendela kantor lain, lalu perlahan merayap mendekati Mia. Melompat dari satu kanopi ke kanopi lainnya.

“Hei…lepaskan aku, biarkan aku mati. Hidup tak ada artinya lagi bagiku!” kata Mia dengan sangat marah.

“Hidup akan selalu berarti Mbak,” jawab Rio.

“Tahu apa kau soal hidupku..? Uruslah hidupmu sendiri. Sekarang lepaskan aku. Biarkan aku jatuh.”

“Tidak, aku tak akan melepaskanmu!” Rio mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik wanita itu keatas. Tetapi posisi tubuhnya kurang menguntungkan. Ia bertumpu pada lutut kirinya. Sementara kaki kanan menahan badannya, dan tangan kiri memegang kusen jendela.

“Uhh..berat sekali. Tapi biar bagaimana pun aku harus menyelamatkannya,” kata Rio dalam hati.

Beberapa orang menyusul dari jendela tetapi mereka tidak bisa membantu. Teras beton itu terlalu sempit dan tipis, tidak mungkin kuat untuk menahan tubuh mereka semua. Salah seorang mencoba menyusul Rio, namun ia mengurungkan niatnya karena kanopi beton itu retak.

Arsip Cerpen di Indonesia