Diambang Kematian

Rio kesulitan menyelamatkan Mia. Ia tak tahu harus bagaimana. Apalagi wanita itu terus melawan dengan meronta, menghentak-hentakkan tubuhnya sekuat tenaga agar terlepas dari genggaman Rio. Tangan kirinya mencakari tangan Rio, membuatnya tergores dan luka-luka.

Dan yang lebih fatal lagi, Mia mengeluarkan sebilah pisau kecil dari balik bajunya, lalu dihunjamkannya ke lengan Rio. Rio sangat terkejut, ia tidak menyangka sama sekali akan mendapat serangan brutal dari Mia. Secara refleks Rio menepis pisau itu dengan tangan kirinya. Tetapi tubuhnya goyah, dan mereka hampir jatuh. Tikaman pisau meleset. Tetapi wanita itu berusaha melakukannya lagi. Suasana semakin tegang! Suara orang-orang bergemuruh, berteriak, membujuk dan mengumpat Mia agar tidak melakukan hal itu.

Beberapa tikaman berhasil melukai Rio. Kaki kanan dan lengan kanannya tersayat. Darah mulai mengucur. Para penolong lainnya tidak bisa berbuat banyak.

“Lepaskan aku, lepaskan aku!” teriak Mia. Ia masih terus menghunjamkan pisaunya kearah Rio. Sambil meronta, menghentak-hentakkan tubuhnya agar terlepas dari genggaman pemuda itu.

“Tidak, apapun yang terjadi aku tak akan melepaskan Mbak.” Rio masih bertahan. Tetapi lukanya agak serius. Darah terus mengucur dari luka sayat di lengan dan kakinya, membuat Rio lebih cepat kekurangan tenaga.

“Ayolah Mbak, jangan lakukan. Masalah apapun tak ada yang pantas membuat kita mati dengan cara seperti ini. Ini cara kematian yang sangat buruk Mbak.” Rio masih terus membujuk Mia. Tubuhnya mulai gemetar, pandangannya menghitam.  Dan cengkeramannya pun mengendur. Tubuh Mia mulai merosot. Detik-detik kematian semakin mendekat. Bisa jadi peristiwa itu akan merenggut dua korban jiwa sekaligus Mia dan Rio. Hanya saja yang satu mati dengan cara sesat, sedangkan satunya lagi mati dengan cara mulia.

Di saat yang benar-benar genting, beberapa orang terlihat dari jendela kantor Mia. Para penolong berhasil mendobrak pintu. Dengan cepat salah seorang menggenggam tangan Rio dengan kuat. Seorang lagi mengeluarkan badannya untuk memegang tangan Mia. Ia masih meronta. Pisaunya terlepas dan jatuh. Untunglah tidak mengenai seorang pun di bawah.

“Ayo tarik, tarik!” teriak orang-orang.

Dua bulan kemudian…

Arsip Cerpen di Indonesia