Kado yang kuberikan untukmu bukanlah yang terbaik dari yang terbaik. Dikatakan terbaik pun sangat susah. Kado itu memang cukup membi ngungkan. Kado yang membingungkan di hari ulang tahunmu. Sebaiknya aku mengucapkan selamat ulang tahun terlebih dahulu untukmu. Selamat ulang tahun. Semoga semoga dan semoga. Tentu kau jauh lebih tahu tentang semoga semoga dan semoga yang ku maksud itu. Hanya kau dan aku yang mengetahui itu.
Sebenarnya ini hanya lah kado sederhana dari orang yang sangat-sangat sederhana. Namun, aku terkadang ragu. Apakah aku orang yang sederhana atau orang yang terlanjur miskin. Aku rasa kau harus tahu kenapa aku memberikan kado seperti ini untukmu. Seperti ini:
Suatu hari yang cerah, langit tidak terlalu banyak awan. Udara tidak terlalu disaingi karbondioksida. Hembusan angin terasa santun menyentuh tubuhku. Entah kebetulan entah ketersengajaan. Aku berada di taman. Taman yang cukup indah untuk kunikmati sendirian. Sebenarnya jauh lebih indah jika bersamamu. Di taman kecil namun sejuk itu, aku melihat satu sampah plastik. Padahal hampir di setiap sudut taman tertulis, ‘buanglah sampah pada tempatnya’. Mungkin inilah kita semua. Menganggap alam terkembang jadi tong sampah. Atau buanglah sampah di mana saja.
Cukup lama aku memperhatikan sampah plastik yang kesepian itu. Hingga pada akhirnya seorang lelaki tua me munggutnya dan ditem patkan pada tempat yang semestinya. Ada sedikit penyesalan di hatiku. Kenapa aku tidak memu ngut sampah itu. Ah sudahlah, sampah sudah masuk dalam tong sampah, pikirku. Tak mungkinkan aku menge luarkan sampah dari tong sampah dan kembali memasukkan sampah itu ke dalam tong sampah. Apa nilai guna jika aku melakukan hal itu?
“Bolehkah Kakek duduk di sini, Nak?” lelaki tua yang tadi memungut sampah tiba-tiba saja sudah berada di depanku. Sungguh aku tidak menyadari hal itu.
“Silakan Kek.”
“Terimakasih,” keuzur an sudah mengoyakngoyak hidup lelaki tua itu. Ombak di keningnya jelas terlihat. Tak lagi bisa ditutup-tutupi. Dia duduk tenang menatap jauh ke depan. Mungkin tatapan nya itu adalah simbol betapa pahitnya hidup di kota yang penuh hirukpikuk. Atau dia berusaha menjemput ajalnya. Tentu kemungkinan-kemungkin an akan selalu tetap ada. Seperti apa pun kemung kinan itu. Bukankah kehidupan ini selalu dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan. Jika tidak, sangat absolut hidup ini.