Aku dan lelaki tua itu hanya duduk tenang dan terbenam dalam pikiran masing-masing. Kami tidak saling berkenalan seperti dua orang yang baru pertama kali berjum pa. Tidak saling mena nyakan nama, tempat tinggal dan sebagainya itu. Aku sibuk dengan pikiranku yang berca bang. Dan mungkin lelaki tua itu juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku tak ingin memulai percakapan dan dia pun enggan memberi perca kapan. Kentaralah, bahwa dia dan aku adalah manusia yang mungkin lebih mementingkan diri sendiri. Atau memang individualis. Walau sebenanya, aku tidak begitu paham dengan fundamental dari kata individulalis. Apakah bisa orang-orang yang tak bertegur sapa atau tak berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal disebut individualis? Jika iya, fakir sekali pengertian individualis.
“Dulu,” suara lelaki tua itu kental dan terhenti. Aku tidak begitu meng hiraukan. Apakah dia hendak berbicara dengan ku atau tidak. Tidak begitu penting bagiku. Kata ‘dulu’ bagiku sudah sangat biasa disabdakan oleh orang-orang tua di mana pun aku berjumpa. Seolah-olah mereka menyesali ketuaan yang dialami. Atau mereka hanya ingin membang gakan masa mudanya kepeda orang muda. Tiada guna. “Dulu, setiap minggu sore kami selalu ke taman ini. Duduk di kursi kayu ini. Menikmati suasana senja walau kami tak lagi muda. Ia selalu senang berlama-lama di taman ini. Dan aku selalu senang bisa berlama-lama menghabiskan hari dengannya.” suara lelaki tua itu sangat kental dan teratur. Setiap kata yang keluar dari alat ucapnya masih jelas terdengar. Sempat aku melihat matanya dari samping. Tatapannya jauh ke depan. Tampaknya semua benda yang ada di depannya menghilang. Dia seperti berusaha menjemput sesuatu. Entah itu kenangan, penyesalan atau sebagainya. Aku masih tidak mengetahui itu. Bahkan aku masih merasa dia hanya ber bicara sendiri. Tidak hendak mengajakku berkomunikasi.
“Minggu. Di umur delapan puluh tiga di hari ulang tahun terakhirnya. Aku hanya bisa mem bawanya ke tanam ini. Tidak begitu spesial di hari ulang tahunnya. Memang pernah terniat memberikan kado cincin bermatakan mutiara, tapi itu hanyalah angan. Sampai ulang tahun terakhirnya, hanya di taman ini yang menjadi kenangan.” aku hanya diam mendengarkan setiap kalimat darinya. Bukankah diam lebih baik ketika seseorang hendak menceritakan kenangan yang dirasa begitu lekat dalam ingatan.
“Kami begitu dekat di kursi ini. Bahkan angin tak mendapat ruang untuk memisahkan kami. Jika ia masih hidup, hari ini, minggu, genaplah umurnya delapan puluh enam tahun. Dan ia pun akan duduk di kursi ini denganku,” tidak begitu jelas olehku, apakah matanya mengeluarkan cairan bening yang suci. Atau cairan bening yang suci itu hanyalah suatu halusinasi bagiku, “anak muda. Kau bukanlah aku. Aku hanya bisa men jemput kenangan, sedang kau masih mampu menciptakan kenangan.” lelaki tua itu berdiri dan berjalan memunggungiku. Dia tampak bongkok. Perlahan. Semakin jauh dia berjalan dan mening galkanku sendiri di taman ini.