Kereta Api Pertamaku

Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Setibanya di stasiun, Fadil sempat heran melihat stasiun yang sudah ramai meskipun matahari belum terbit. Pagi masih gelap. Akan tetapi, orang-orang sudah sibuk mengantre di loket pembelian tiket.

“Apa masih kebagian tiket, Ma?” tanya Fadil cemas.

Mama Darti mengulum senyum. Membelai lembut puncak kepala anaknya dengan tangan kanan.

“Papa sudah memesankan dua tiket pulang pergi untuk kita, Sayang.”

“Alhamdulillah,” ucap Fadil merasa tenang.

Di ruang tunggu, tampak para calon penumpang sedang duduk menunggu kedatangan kereta yang akan mereka naiki. Fadil dan mamanya pun ikut duduk di salah satu bangku besi panjang yang masih kosong. Menunggu kereta.

“Diharapkan kepada seluruh penumpang kereta api Sibinuang B1 agar bersiap-siap karena sebentar lagi kereta akan segera berangkat,” ujar seorang pemandu melalui pengeras suara yang ada di stasiun.

“Ingat, Fadil tidak boleh jauhjauh dari Mama ya, Sayang.”

Fadil mengangguk. Tepat ketika bunyi peluit ditiup satu kali. Para penumpang yang tadinya duduk di bangku panjang ruang tunggu segera bangkit. Bergegas memasuki gerbong-gerbong kereta. Ada banyak gerbong. Fadil yang baru pertama kali melihat kereta api dari dekat secara langsung dibuat takjub. Dengan tertib orang-orang mengantre masuk. Memperlihatkan tiket mereka kepada petugas yang ada di masing-masing pintu gerbong.

“Gerbong A4 di mana, Pak?” tanya Fadil kepada salah seorang petugas.

“Tiga gerbong lagi dari sini, Dik,” jawab petugas sembari melemparkan senyum.

“Terima kasih,” ucap Fadil segera berlalu.

Meskipun penumpang kereta api pagi ini cukup padat. Semuanya memasuki gerbong masingmasing sesuai tiket yang dibeli dengan tertib. Hawa dingin terasa kian menusuk ketika Fadil masuk ke dalam gerbong kereta. Pendingin ruangan yang berjumlah tiga buah telah dihidupkan. Mengingat kaca jendela setiap gerbong kereta tidak bisa dibuka.

Jeli mata Fadil mencari nomor bangku sesuai dengan yang tertera pada tiketnya. Dan ketika ia sudah menemukan bangku yang dicari, ternyata bangku tersebut sudah diduduki oleh orang lain.

“Ma, bukankah itu tempat duduk kita?” Fadil menunjuk ke bangku nomor 7A.

“Mungkin mereka salah melihat nomor bangku saja, Sayang. Fadil berani bertanya secara baikbaik?”

Arsip Cerpen di Indonesia