Kereta Api Pertamaku

Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Kereta Api Pertamaku ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Fadil mengangguk. Dihelanya napas panjang. Berusaha tetap tenang agar pertanyaan yang keluar dari mulutnya tidak menyinggung perasaan orang lain.

“Maaf Pak. Apakah benar Bapak duduk di bangku nomor 7A?” tanya Fadil seramah mungkin.

Laki-laki yang dipanggil bapak oleh Fadil barusan segera mengecek tiket kereta. Tak berselang lama ia menepuk jidatnya sendiri. Salah tempat duduk.

“Maaf ya, Nak. Bapak salah bangku,” ujarnya malu.

Setelah insiden salah bangku. Fadil dan mamanya bisa duduk di bangku sesuai dengan tiket yang mereka pesan. Selang beberapa menit suara pemandu terdengar lantang. Lalu, terdengar bunyi peluit melengking keras.

Tuuut. Tuuut.

Kereta pun berjalan.

Dari dalam gerbong berisiknya gesekan kereta dengan jalurnya tidak begitu terdengar. Hanya sesekali Fadil merasakan guncangan. Ia begitu menikmati perjalanan menggunakan kereta api untuk pertama kalinya. Gerbong yang nyaman tersebab pendingin ruangan yang bekerja dengan baik. Bangku di dalam gerbong juga terasa empuk dan luas.

Tidak ada yang merokok seperti halnya ketika naik angkutan umum. Ditambah lagi pemandangan alam yang indah di sisi kiri dan kanan jalur kereta. Padipadi yang mulai menguning menghampar luas. Bukit-bukit menjulang tinggi menambah pesona keindahan alam. Dan ketika kereta melewati jembatan rel. Fadil merasakan guncangan yang lebih keras. Memacu adrenalinnya. Tak jarang pula ketika kereta menyeberang jalan raya, tampak para pengendara sepeda motor dan mobil berhenti. Menunggu kereta lewat. Liburan yang menyenangkan. Tak lupa Fadil berfoto ria demi mengabadikan momen spesialnya naik kereta api supaya bisa diperlihatkan kepada teman-teman sekelasnya ketika sudah masuk sekolah nantinya. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia