“Kamu bisa cari di rak 13!” jawab pria itu datar sekali.
“Makasih, Pak!”
“Hmm!”
Mita segera menyusuri lorong-lorong yang terbentuk dari deretan rak buku hingga membentuk seperti labirin. Ternyata tidak mudah menemukan rak 13 itu. Letaknya ada di antara lorong paling ujung antara rak 10 dan rak 9. Mita menoleh ke kanan rak 9, pada sebuah kertas yang sudah lusuh tertulis “Rak 13”. Perlahan langkahnya terayun menuju deretan buku sastra yang terpajang di rak itu.
Entahlah, semakin dekat dengan rak itu, rasa takut menyergap hatinya, bulu kuduknya semakin merinding. Mita menyentah lembut deretan buku yang tersusun rapi di rak itu, di ambilnya sebuah buku yang terletak paling ujung lantas dibaca jilid depannya berjudul: Misteri Terbunuhnya Gadis Berusia 13.
“Kok, cerita misteri sih?” gumamnya seraya meletakkan buku itu di tempat semula, kemudian Mita ambil lagi buku yang lainnya.
“Astagfirullohaladzim… kok judulnya sama sih,” seru Mita kaget luar biasa, buku itu terlempar ke lantai. Mita mundur beberapa langkah hingga nyaris menabrak rak 9 persis berhadapan dengan rak 13.
Beberapa saat keberaniannya timbul di ujung rasa penasarannya. Mita kembali menghampiri rak 13 itu lalu mengambil buku dari ujung yang lain kemudian dibacanya judul buku itu.
“Astaga! Kok semua buku di rak ini memiliki judul yang sama ya? Ada apa ini?” seru Mita, secepat kilat dia berlari menghambur ke arah pintu keluar, pandangannya tetap tertuju pada rak 13 itu. Sontak saja Mita tidak memperhatikan benda yang ada di depannya. Di waktu yang bersamaan Tiara bermaksud menyusul Mita ke dalam perpustakaan itu, tak pelak lagi tubuh Mita menabrak tubuh Tiara yang berada di ambang pintu itu. “Gedubrak,” kedua tubuh gadis itu terjatuh saling menindih.
“Aduh….kamu ini kenapa Mita, lari kayak dikejar setan aja?” ujar Tiara seraya bangkit, wajahnya terlihat memucat. Tiara beberapa kali mengaduh kesakitan, dia memegang sikutnya yang lecet karena benturan.
“Anu….anu!” jawab Mita dengan suara terbata-bata terlihat seperti ketakutan sekali.
“Anu apa Mita?” tanya Tiara, kedua tangannya memegang bahu Mita yang sedang dalam kondisi ketakutan yang amat sangat.