“Tenangkan dulu Mita! Duduklah, ini minumlah dulu!” ujar Tiara seraya mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya dan memberikannya pada sahabatnya itu. Mita tidak serta merta meminum air itu, wajahnya masih memucat, napasnya sesak, keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya. Kini baju seragam pramuka yang dipakainya terlihat membasah.
“Ayo, minumlah Mita, agar kondisimu makin membaik, setelah itu berceritalah padaku! Ada apa di dalam sana sehingga kamu terlihat begitu ketakutan,” ujar Tiara lagi seraya terduduk di samping Mita.
“Iya, makasih Tiara,” jawab Mita sambil meminum air pemberian sahabatnya itu. Entah karena haus atau hal lain air mineral itu nyaris habis setengah bagian.
“Gimana, kamu sudah tenang sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana Mit?” tanya Tiara setengah memaksa Mita untuk bereerita.
“Sesuai rencana, kita akan mencari buku sastra yang ditugaskan Bu Yanti, karena kelamaan menunggu kamu maka aku putuskan masuk duluan,” jelas Mita dengan nada bicara sedikit terbata karena masih dihantui rasa ketakutan hebat.
“Lama gimana? Aku hanya ke toilet tidak lebih dari sepuluh menit,” jawab Tiara seraya mengernyitkan dahinya.
“Akhirnya aku memaksakan diri masuk, sebelumnya aku menulis di buku tamu karena disuruh Pak Badrun,” jelas Mita lagi sambil menatap wajah Tiara yang kebingungan.
“Apa? Pak Badrun? Kamu lupa kalau beliau itu sudah meninggal tiga hari yang lalu?” ujar Tiara lagi.
“Iya, Pak Badrun, bahkan aku menulis di buku tamu yang terletak di atas meja itu!” kata Mita seraya menoleh ke arah meja di pinggir kanan pintu perpustakaan itu.
“Buku apa? Tidak ada buku apa pun di sana,” kilah Tiara seraya menuntun Mita menuju meja itu.
“Jadi tadi itu?”
“Jadi tadi itu hanya halusinasi kamu, Mita!”
“Terus rak 13 itu menyimpan buku dengan judul yang sama ‘Misteri Terbunuhnya Gadis Berusia 13,” jawab Mita meyakinkan sahabatnya tentang rak 13 itu.
“Masa sih? Ayo kita cek lagi kebenarannya,” ajak Tiara seraya membimbing Mita menuju rak 13. Tanpa banyak berkata Mita segera mengikuti kemauan Tiara menuju rak 13. Sasampainya di rak itu, Tiara segera mengecek judul buku yang berderet satu demi satu dengan teliti.