Di halaman rumahnya yang cukup luas, di bawah guyuran hujan, Rayna Kumala tampak sedang bermain-main dengan seekor kucing hitam. Ia duduk dan memegangi kucing itu. Di dekatnya ada sebuah ember kecil berwarna hitam. Saya selalu senang melihat seorang manusia berakrab-akrab dengan hewan. Itu membuat saya percaya dunia masih akan eksis selama seribu tahun ke depan. Tapi, kesenangan saya saat itu salah alamat. Sebab, manusia itu—Rayna Kumala—bukan sedang berakrab-akrab dengan hewan. Mulanya ia memang tampak memegangi dan mengelus-elus si kucing sebagaimana umumnya seorang pencinta kucing. Namun, beberapa menit sesudahnya, saya melihat Rayna Kumala mengeluarkan sebilah pisau dari balik pinggangnya. Ia mencengkeram leher si kucing, menggores-goreskan pisau ke leher si kucing, dan setelah leher si kucing putus, ia lesakkan jasad kucing hitam yang sudah berdarah-darah itu ke dalam ember.
Dari jauh, saya berteriak, “Hei, Rayna, apa yang sedang kaulakukan?”
Rayna menoleh kepada saya. Tapi ia tidak bicara apa-apa. Setelahnya ia bergegas membawa ember berisi mayat kucing dan masuk ke dalam rumah.
Hujan reda tak lama setelah itu. Dan entah dari mana, samar-samar saya mendengar suara ngeongan lemah seekor kucing. Namun, saya sama sekali tidak melihat keberadaan kucing. Tidak ada kucing sama sekali.
***
Soal cerita Rayna Kumala memenggal kucing, saya membeberkannya kepada Rani Ansari, kawan saya yang lain. Tapi, perempuan muda dengan mata besar dan alis tebal seperti orang Arab itu tak memercayai saya. Ia bilang pastilah saya salah lihat atau kucing itu adalah replika belaka. Saya menegaskan kepadanya bahwa saya tak salah lihat, bahwa saya sungguh-sungguh melihat ujung pisau itu memutus leher seekor kucing hitam.
“Rayna tak mungkin sekejam itu. Aku bahkan jarang melihatnya menampakkan amarah.”
“Tapi ia membunuh seekor kucing.”
“Kau punya bukti apa?”
“Aku memang tak punya bukti apa-apa. Tapi, penglihatanku masih kelewat normal, Ran.”
Di tengah-tengah percakapan kami, entah terbawa angin apa, tiba-tiba Rayna Kumala melintas di depan rumah saya. Ia tersenyum kepada kami. Kami bertanya ia mau ke mana dan mengajaknya mampir. “Terima kasih. Aku sedang terburu-buru.”
Kami membiarkannya. Ia tampak berjalan ke arah barat dan berdiam di bawah sebuah pohon jambu yang baru ditebang. Ia belum terlalu jauh. Pandangan mata kami masih sanggup menjangkaunya. Saya bertukar cakap dengan Rani soal Rayna Kumala. Belum apa-apa, Rani mengagetkan saya dengan suara histerisnya. “Lihat, lihat itu, apa yang ia bawa!”