Rayna Kumala

“Rayna, marmut itu. Kepala marmut itu,” ujarku tergeragap.

“Ada apa? Kepala marmut itu sudah kumakan dan rasanya lezat. Lezat sekali, selezat sebuah pengkhianatan.”

Saya semakin tidak mengerti dengan perbuatan dan kata-katanya. Dan ia mengulangi lagi kata-kata terakhirnya sambil menyeringai lebar, “Lezat sekali, selezat sebuah pengkhianatan.”

Selepas perjumpaan tak sengaja dengan Rayna Kumala itu, saya pulang ke rumah dan tidak makan seharian.

***

Belakangan, saya mendapat sejumlah informasi baru terkait Rayna Kumala. Saya mendengar ini antara lain dari Rani Ansari yang mendengarnya dari seseorang yang cukup dekat mengenal Rayna Kumala.

Kata orang itu—sebut saja A—sebenarnya Rayna Kumala dalam beberapa minggu ke depan akan melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya. Ia sering menceritakan mengenai rencana pernikahan tersebut dengan riang gembira. Ia sangat antusias dan terlihat yakin sekali segala rencana akan berjalan mulus.

Tetapi Rayna Kumala keliru. A bilang kekasih Rayna Kumala kepergok selingkuh oleh Rayna Kumala pada suatu malam. Kekasihnya itu sedang mencium leher seorang perempuan asing ketika Rayna Kumala memergokinya di suatu halte yang sedang sepi.

Cerita A berhenti di situ. Namun, ada tambahan lain, sedikit detail tentang kekasih Rayna Kumala yang kiranya menjadi hal yang dapat memecahkan teka-teki dalam cerita ini. Kata A, kekasih Rayna Kumala adalah seorang pencinta binatang dan kerap menghadiahi Rayna Kumala hewan-hewan mungil nan lucu.

Apakah hewan itu berupa kucing, kelinci, dan marmut? Rani Ansari berujar, “Ya, itulah yang dikatakan A.”

Kendati begitu, saya tetap akan terus menanyakan kepada Rayna Kumala, “Mengapa kau malah membunuh hewan-hewan mungil dan lucu itu?” Meski saya tahu, Rayna Kumala tak akan pernah menanggapinya, selain dengan senyuman dan perkataan, “Kujelaskan pun kau tak akan mengerti.” 

Tambun Selatan, 29-30 Juni 2019

Win Han, tinggal di Bandung. Dia produktif menulis cerpen dan puisi.

Arsip Cerpen di Indonesia