IKAN-IKAN NAIK KE GUNUNG
Puisi Conie Sema (Koran Tempo, 20-21 Juli 2019)

di atas rawa sejarah bukit dan gunung dihidupkan
dalam ingatan rawa ia lelaki dipanggil melayu tua
ia baru saja pergi melepas laut meninggalkan mata
elang di dinding perbukitan dan batu-batu napal
mitos-mitos ikan sungai lalu dikabarkan. ikan semah dan Atung Bungsu. aku adalah komering adalah lampung adalah palembang adalah semende adalah kisam adalah lahat adalah ogan adalah gumay adalah pagaralam adalah jarai adalah ogan adalah lintang adalah mekakau adalah manna. aku lanskap batu-batu berkepala melayu tua menatap Tang dan Ming yang bisu di museum rumahku.
jam-jam gunung lalu mencair menjadi sungai
di hutan larangan ikan-ikan menguap ke awan
melanjutkan dongengan ibu menjelang tidur
tetapi sejarah tetap saja mencari muasalnya
aku Besemah. aku kawin. aku hibrid. tubuhku adalah gajah. kepalaku adalah kerbau. kukuku adalah macan. kakiku adalah badak. gelang tanganku adalah ular. aku puyang. aku halaman buku Yunan dan Dongson. aku proto melayu tua dan deutro melayu muda. aku Sriwijaya. bukan Majapahit. bukan juga Passumah dalam kepala kolonial. aku adalah manusia buas liar dan tak tahu aturan. aku ikan-ikan yang berenang dari gunung sampai lautan. aku anak alam anak puyang. aku bandit-bandit yang menakutkan tuan Raffles.*
sebuah peradaban terbunuh dalam cerita ibu
lelaki bernama melayu tua itu adalah Besemah
adalah buku-buku puyang terhimpit batu-batu
dari pandang alam atas sikap hidup yang kukuh
laut! laut! ikan-ikan naik ke gunung meninggalkan rawa. meninggalkan lebak tanpa kemarau. lembah kopi sepi. lada cengkih berubah kakau. sawah cetak dan deru mesin padi. tumbuk lesung tak terdengar. aku Besemah. melayu tua yang pergi ke hilir melabuh perahu. lenyap di sungai lenyap di gunung. tak akan bisa kau menaklukkanku.
2018
*) Orang Belanda menyebutkan: ## dat de Pasoemhers zonen gebragt (orang Pasemah tak akan diajak bicara jika tidak diberi unjuk kekuatan militer). Demikian juga Sir Thomas Raffles, seorang gubernur jenderal di Bengkulu, pertama kali dia menganggap orang Besemah sebagai the pasumahs were a savage, ungovernable race, and that no terms could ever be made with them (Orang Pasemah adalah buas, ras yang tidak berpemerintahan, dan tidak ada istilah yang dapat sesuai untuk mereka). Umpatan Raffles itu sebagai ekspresi kekesalannya karena 50 tahun gagal menguasai wilayah Besemah.