Perempuan Bernama Pita dan Sebuah Taman

Aku merasa dia sedang meminta pertanggunganjawabku atas apa yang pernah kukatakan padanya, tentang sebuah kesetiaan. Terus terang aku memang pernah berjanji padanya, aku akan setia padanya dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalan sehat dan sakit, bahkan yang terakhir aku mengatakan aku juga akan setia dalam hidup dan mati. Ketika aku mengatakan itu semua, tak ada sedikit pun apakah ucapanku itu ada efeknya. Alasan logis mengapa aku dengan yakin mengatakannya karena benih cintaku yang waktu itu ada dan tumbuh dalam diriku sedang mekar-mekarnya. Dengan begitu, ketika sadar tentang perpisahan itu, aku merasa seperti hidup sendiri.

Deritaku seperti tak pernah berakhir jika selamanya terpisah darinya. Maka kuputuskan aku memang harus bunuh diri. Aku ingin menyusulnya di alam sana agar aku tidak merasa sendiri di alam ini. Tetapi setelah beberapa kali melakukan usaha bunuh diri, entah mengapa jiwaku seperti tidak pernah mau pergi. Aku tidak matimati. Beberapa cara telah kulakukan untuk mengakhiri hidupku, tapi jiwaku selalu tertolong, seakan pelindung maut selalu siap berada di dekatku dan mengeyahkan siapa saja yang ingin merebut nyawaku.

Setiap kali aku gagal bunuh diri, dalam bayanganku, kekasihku di sana terus merajukku melalui bisikanbisikan kepadaku, agar aku mencari jalan lain tentang bagaimana caranya melenyapkan nyawa yang jitu. Dalam benakku, kekasihku dengan setia menunggu di bibir batas alam ini, menunggu kedatanganku.

Dalam pikiranku, dia telah memendam rindu yang begitu tebal dan ingin segera dituntaskan bersamaku. Begitupun dengan keinginanku, kerinduanku terhadapnya telah berada di ujung kepala. Hingga sampai waktunya di mana aku berusaha bunuh diri yang kesekian kalinya. Aku ingin minum racun sianida.

Kupikir tidak ada nyawa yang lolos dari racun itu. Semua nyawa akan mati olehnya. Tetapi entah kenapa, ketika racun itu telah kuminum, racun itu seperti tidak mau bekerja untuk mematikan diriku. Tidak ada efek apa pun yang kurasakan, bahkan aku sampai menyakinkan keaslian racun itu kepada orang yang dulu menjualnya. Penjual itu justru marahmarah karena tersinggung aku telah meragukan khasiat dari racun yang dia jual.

Pada saat jiwaku linglung itulah, aku berusaha memusatkan pada pernyataan yang disampaikan kekasihku dulu. Aku berpikir, apakah mungkin aku yang salah mengartikannya. Mulai sejak itu aku suka pergi menemui teman-temanku. Menanyakan apa arti sesungguhnya tentang pernyataan yang disampaikan kekasihku itu. Aku berjanji akan menemukan artinya, sesuai dengan apa yang dimaksud kekasihku. Beruntunglah karena aku punya teman yang beraneka rupa pekerjaannya. Teman-teman itu kudatangi semua. Aku tanya dengan pertanyaan yang sama, yaitu tentang apa arti penyataan kekasihku itu. Dari sekian teman yang kudatangi dan kutanyai, aku merasa belum ada jawaban yang cocok. Kupikir, jawaban mereka kebanyakan teoritis belaka, bahkan ada yang tidak fokus menjawab pertanyaanku.

Arsip Cerpen di Indonesia