Intinya mereka mengatakan bahwa aku harus ikhlas. Alamku dan alam kekasihku sudah berbeda. Semua sudah ada jatah dan waktunya sendirisendiri. Lalu mereka menyuruhku pulang. Mereka juga mengatakan tak ada lagi yang perlu aku risaukan. Aku diminta untuk memberi kesempatan kepada kekasihku untuk menjalani hidupnya dengan tenang. Yang kuheran dari pertemuanku bersama temanteman itu, mereka tidak seantusias seperti biasanya. Ekspresinya datar. Mungkin mereka masih tidak enak denganku? Bahkan kebanyakan dari jawaban itu kudapat bukan dalam porsi menjawab langsung apa yang menjadi pertanyaanku. Aku sampai berpikir, mengapa sikap mereka berbeda?
Ah, jawaban macam apa itu. Aku kecewa. Karena kecewanya sampai kupikir mungkin mereka belum tahu apa artinya cinta. Bukan itu saja, aku menjamin kebanyakan dari mereka belum tahu bagaimana rasanya bercinta dan kasmaran. Kupikir kepandaian mereka selama ini hanya semu, status paranormal, dukun, dosen, mahasiswa, tokoh politik, musisi, penulis yang selama ini ada pada mereka hanya untuk bergaya. Aku merasa teman-teman yang kutanyai itu sedang mengerjai saja. Kalau tidak, masa dari sekian jawaban itu hampir semuanya senada. Dasar brengsek!
Ke mana lagi akan kucari pencerahan? Pada saat aku memikirkan itu, tak sungguh kusadari sebelumnya, begitu aku coba memperhatikan dengan saksama apa yang ada di sekelilingku, ternyata aku sedang duduk di sebuah taman. Aku berpikir ini taman kota. Tapi di mana? Aku berusaha mengingatingat, di mana letak taman itu. Belum sempat kutemukan nama taman itu, datang seorang perempuan cantik mendekatiku. Aku pikir kecantikan perempuan itu selevel dengan kecantikan kekasihku.
“Boleh aku duduk di sampingmu?” tanya perempuan itu.
Aku mempersilakan dengan kata-kata yang kuucapkan dengan agak gugup. Begitu dia duduk di hadapanku, kami berkenalan, yang kemudian kutahu namanya Pita. Setelah itu kami samasama terdiam agak lama. Ketika aku ingin bicara, rupanya saat itu dia juga akan bicara. Lalu kami sama-sama tersenyum, dan aku mempersilakan dia untuk lebih dulu bicara.
“Aku memperhatikanmu sejak pertama kali datang di sini. Dan kulihat kamu seperti sedang bersedih, ada apa?”
Entah kenapa, pertanyaannya langsung kujawab, dan jawabanku panjang lebar seperti cerita yang panjang, yang kuusahakan persis dengan yang kualami. Tapi di tengah perjalanan ceritaku dia tiba-tiba menyela.