“Lo bilang apa? Biasa… Oh…Tuhan, lo udah sinting ya, di mana-mana orang bela-belain buat pulang biar bisa puasa pertama dirumah bareng keluarga. Nah lo….. aneh bingit jadi orang…”
“Biarin ekkk,” jawabku sambil mengeluarkan lidah. Annisa adalah temanku yang paling bawel, memekakkan telingaku di setiap harinya. Apapun yang aku lakukan baginya nggak masuk akal semua. Orang yang sepanjang hari membebeliku.
Ahhh apa jadinya jika libur semester tiba, aku pasti tidak akan mendengarkan bebelannya lagi. Dari dirinya itulah yang sangat kusuka, orang yang perhatian meskipun membuat keributan. Cuma ia saja yang satu-satunya manusia yang seperti ini yang pernah kutemui.
***
Satu persatu temanku udah pada pulang. Di kelas pun jam ke-3 mulai kosong. Hanya ada beberapa mahasiswa, itu pun hanya mereka yang rumahnya jauh. Kupandangi satu persatu kursi kosong yang ada di ruangan ini.
Rasanya sangat aneh sekali. Biasanya ada 34 orang, kini tinggal setengahnya benar-benar sepi kurasa. “Ehh.. Ca, aku pulang dulu ya?” kata temanku Nency.
“Pulang ke mana, Nes?” tanyaku.
“Pulang kampung,” jawabnya.
Seorang temanku menyela, “Weee… kalian yang pulang kampung, titip salam ya buat orang tua, dari kami anak rantau.”
Kalimat itu seketika menusuk jantungku. Di balik kalimat itu ada rasa kecewa, sedih namun ia tutupi dengan gelak tawa. Mungkin aku termasuk orang yang lebai, kampungku yang dekat saja tidak terniat untukku untuk pulang, sedangkan mereka yang jauh sangat ingin sekali untuk berkumpul dengan keluarga mereka.
Malam itu aku mencoba menelpon ibuku di kampung.
Aku mengatakan puasa pertama ini aku tidak bisa pulang. Sungguh berat hatiku mengatakan hal itu kepadanya, tapi apa boleh buat, inilah jalan yang harus kuambil, tetap bertahan di sini mela kukan aktivitas seperti biasanya.
Di seberang sana aku sudah mem bayangkan bagaimana perasaan ibuku. Beliau pasti duduk di beranda rumah sambil bermenung dan bergumam Ramadan kali ini anak sulungnya tidak pulang.
Ahhhh, maafkan aku ibu, bukan inginku, tapi kehidupanku menuntutku untuk melakukan hal seperti ini.
Tak bisa pulang di saat momen-momen yang berharga menurut orang lain.