Tuhan, Maaf Ramadhan Ini Aku Sibuk

Namun bagiku saat yang membahagiakan itu adalah ketika aku mampu membuat orang tuaku merasa bangga atas prestasi akademikku.

Esok harinya kujejaki lagi kakiku ke kampus tercinta ini. “Sepi” hanya kalimat itu yang terucap dari mulutku. Dengan langkah yang gontai, kususuli setiap koridor fakultasku yang benar-benar sepi.

Puasa pertama kebanyakan mahasiswa mengambil jatah pulang kampung, katanya ingin sahur dan buka puasa bersama keluarga di hari pertama, takutnya nanti tidak ada kesempatan lagi ditahun depan untuk bareng mereka.

Pada umumnya itulah alasan yang mereka lontarkan. Bagiku itu sangat lebai sekali, memang. Bukankah hidup-mati itu Allah yang tentukan dan tak ubahnya seperti takdir.

“Nggak pulang, Ca?” Mario menyapaku

“Nggak, Yo,” jawabku acuh tak acuh karena aku lebih tertarik dengan buku bacaan yang ada di tanganku.

“Kamu nggak nanya aku kenapa aku nggak pulang?”

“Buat apa?”

“Memang kamu nggak mau nanya gitu sama aku?”

“Okay, Mario yang ganteng dan juga cerdas, kenapa kamu nggak pulang?”

“Memang aku ganteng ya, Ca?”

“Nggak…..udah pergi sana, sibuk ganggu gue aja.” Aku memang selalu jutek kalau sama Mario karena anaknya menyebalkan.

Semua orang bertanya kenapa nggak pulang, membuatku kesal. Ingin sekali aku marah, tapi kutahan. Kebanyakan pertanyaan mereka tidak kutanggapi. Bagiku jika itu perlu untuk kuladeni maka akan kuladeni. Jika tidak, kubiarkan saja.

Hari pertama Ramadhan, tak bisa lagi kubendung air mata ketika semua menjalaninya dengan ke luarga.

Sekuat hati kutahan airmata dan menebarkan senyum terbaikku meskipun kepedihan yang kurasa. Satu hal yang membuat kusadar bahwa aku tidak mampu tanpa keluarga.

Seperti halnya rutinitas yang dilakukan orang-orang ketika Ramadhan, mas jid- masjid jadi hidup lantunan ayat suci Alquran terdengar di seluruh penjuru. Aku teringat akan kampung halamanku. Ingin rasanya aku pulang saat ini saja, tapi kaki kutertahan. Tugas-tugasku tak bisa lagi ditunda. Lagi-lagi air mataku jatuh. Aku hanya mampu menangis dan bergumam, “Tuhan, maaf Ramadhan ini aku sibuk”.

Arsip Cerpen di Indonesia