Pernah dia bertanya kepada bayang-bayang seorang pencopet dan pezina yang tinggal di sebuah rumah kumuh dekat sebuah terminal.
“Bagaimana kau bisa betah menjadi pengikut seorang brengsek seperti dia?”
“Betah katamu? Bukankah kau juga tahu, tugas kita hanyalah mengikuti dan menjadi saksi?” jawab si bayang-bayang pencopet itu.
“Terserah saja mereka mau berbuat apa, toh mereka sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya.”
“Kau sendiri, bagaimana bisa kelayapan ke sini? Mana tuanmu? Apa dia sudah dijemput ajal?” tanya balik si bayang-bayang pencuri.
Si Bayang-bayang kita terdiam. Tak dijawabnya pertanyaan sederhana itu. Jika dia jawab dengan kejujuran, tentulah ia akan malu besar, sebab pasti akan mendapatkan komentar semacam;
“Lho, bukankah tuanmu orang terhormat? Bukankah televisi dan koran-koran juga menabalkannya sebagai Tuan yang Mulia?”
Menyembunyikan aib orang lain ternyata tak mudah. Apalagi aib orang yang selama ini dikagumi dan menjadi panutan banyak orang. Keminggatannya kali ini adalah bukti nyata, dia juga memiliki rasa malu dan harga diri. Meskipun dia hanya seorang bayang-bayang.
Kini dia telah benar-benar menjadi seorang makhluk yang merdeka. Dia telah memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dia telah dapat melakukan apa-apa yang selama ini hanya dapat ia saksikan di tempat.
***
Kejadiannya dimulai ketika si Bayang-bayang kita bersekongkol dengan bayang-bayang seorang lelaki yang hendak melakukan perzinaan. Si Bayang-bayang kita menyelinap dan bergabung dengan bayang-bayang lelaki yang tengah mabuk saat merayakan keberhasilan salah satu tender raksasanya tersebut.
Tak ayal, lelaki teler itu terperanjat ketika mendapati bayang-bayangnya yang terpecah menjadi dua.
“Aih, aku hanya sedang mabuk… aku sedang mabuk…,” racau lelaki itu, berkali-kali meyakinkan diri. Bahwa dua bayangan yang dia lihat adalah efek mabuk.
Pemandangan yang dilihatnya terlalu nyata. Bayang-bayangnya terpecah menjadi dua. Satu dia yakini sebagai bayangannya sendiri. Satunya lagi entah bagaimana bisa menjelma bayangan seorang bocah kecil yang terus saja mengikuti. Bayangan terakhir ini mengingatkan pada anak lelaki kesayangannya di rumah. Anak lelaki yang sering teronggok menyendiri jika dia dan istri bertengkar hebat. Meributkan kesibukan masing-masing yang tak pernah habis.