Balada Bayang-bayang

Sekali lagi dia meyakinkan diri bahwa ia hanya sedang dikuasai halusinasi. Bayang-bayang anak lelaki itu ternyata amat nyata bagi kedua matanya. Membuat dadanya tak lagi dipenuhi desakan amarah dan hasrat birahi. Bahkan kemaluannya tak bereaksi ketika perempuan cantik yang ia booking sudah berada di hadapannya.

Si Bayang-bayang kita tertawa penuh kemenangan merasa bahwa keberadaannya mulai berarti. Kepercayaan dirinya tumbuh dengan pasti. Ketika bayang-bayang asli lelaki tadi mengingatkan tentang sang Tuan si Bayang-bayang kita. Dia pun terdiam kembali memikirkan nasibnya sendiri.

“Sepertinya kau benar, aku harus kembali lagi ke tuanku yang brengsek itu,” ujar si Bayang-bayang kita, menanggapi nasihat bayang-bayang lelaki pemabuk.

Ketika akhirnya memutuskan kembali menengok sang Tuan, si Bayang-bayang kita langsung dihinggapi penyesalan yang membukit. Pasalnya, bukannya tersandera penyesalan dan ketakutan, kelakuan lelaki itu justru semakin menjadi-jadi.

Si Bayang-bayang kita mulai memahami sesuatu. Semakin dia yakini, ketika dia memutuskan kembali mengikuti hari-hari sang Tuan yang pernah dia tinggal sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sang Tuan entah mengapa kembali didera perasaan was-was, khawatir, cemas dan gampang terkejut. Dia selalu merasa ada yang mengikuti.

Arsip Cerpen di Indonesia