
Saat Fiq dan Ridho sedang berdebat. Bu Tuti terlihat sedang menuju ke kelas mereka. Bu Tuti adalah guru Matematika yang sangat ramah. Selain itu, ia juga guru yang disiplin serta patuh terhadap aturan.
Semua murid berlari untuk mencari tempat duduk masing-masing. Begitupun dengan Fiq dan Ridho. Mereka terlihat cemas saat Bu Tuti masuk kedalam kelas. Ridho terlihat gelisah. Wajahnya pucat dan duduk dengan diam. Tidak biasanya Ridho seperti itu. Yang setiap hari selalu buat onar.
“O..iya, tadi Ibu melihat Fiq dan Ridho seperti sedang berdebat. Emang ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Bu Tuti seraya melihat kearah Ridho dan Fiq bergantian.
Semua murid terdiam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Suasana cemas mulai terasa. Ridho jadi salah tingkah. Ia terlihat merobek-robek tisu yang ada di tangannya menjadi serpihan kecil.
“Ada apa. Kenapa tidak ada yang menjawab. Apakah pertanyaan ibu salah. Fiq, tolong jawab pertanyaan ibu,” pinta Bu Tuti.
“Hmm. Hmm. Gini, Bu. Tadi kami semua kan pergi ke kantin. Saat kami semua pergi hanya Ridho yang tetap tinggal di kelas. Setelah kami balik, meja dan kursi Fiq sudah tercoret-coret seperti ini, Bu. Fiq tanya Ridho, katanya bukan dia yang nyoret. Lalu siapa lagi,” jawab Fiq panjang lebar sesekali terbata-bata.
Bu Tuti langsung berjalan ketempat duduk Fiq. Ia melihat meja dan bangku Fiq penuh dengan coretan. Dengan wajah tenang, Ia bertanya kepada semua murid termasuk Ridho.
Bu Tuti bertanya dengan suara yang lembut.
“Ridho, apa kamu yang melakukan semua ini?” tanya Bu Tuti sambil mengelus rambut berantakan Ridho.
“Ng-nggak, Bu. B-bu-bukan Ridho, Bu,” jawab Ridho dengan tergagap. Ia tampak ketakutan. Wajahnya terlihat pucat.
“Lalu siapa lagi, Nak, kalau bukan kamu. Kan cuma Ridho di dalam kelas saat teman Ridho semua pergi ke kantin. Ayo, jawab jujur, Nak. Ibu tidak mau anak-anak Ibu jadi tukang bohong,” tanya bu Tuti lagi dengan suara yang lembut.
Tidak ada suara. Semua terdiam menunggu jawaban dari Ridho.
Melihat suasana tegang seperti itu, Bu Tuti punya ide untuk mencairkan suasana. Ia mulai bercerita tentang kehidupan Rasulullah. Ia mengatakan kenapa Rasulullah diberi gelar al-amin, karena Rasulullah tidak pernah berbohong. Ia adalah seorang yang sangat jujur.