
Semua murid terlihat antusias mendengar cerita Bu Tuti. Ridho dan Fiq juga mendengarkan cerita Bu Tuti. Ridho terlihat diam dan hanya menunduk saja. Ia tidak berani menatap wajah Bu Tuti.
Setelah Bu Tuti menyelesaikan ceritanya, ia bertanya kembali kepada Ridho.
Ridho terlihat salah tingkah saat semua mata tertuju kepadanya. Lama kelamaan ia pun mulai menangis dan menjawab pertanyaan Bu Tuti dengan jujur.
“Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu sudah mau menjawab dengan jujur.”
“Ibu hanya ingin memberi pesan kepada kalian semua, bahwasanya meja dan bangku yang ada di sekolah kita ini bukan milik pribadi kita. Semua ini adalah punya pemerintah. Kita harus menjaganya agar kita nyaman dalam mengikuti pelajaran. Tidak boleh dicoret apalagi dirusak. Nanti kalau tidak ada meja dan bangku, kita mau belajar pakai apa, ayo,” jelas Bu Tuti.
Semua murid terlihat menganggukkan kepala pertanda paham dengan perkataan bu Tuti. Ridho masih terlihat diam dan menunduk. Ia tidak berani melihat bu Tuti dan temannya.
“Ridho, tolong lihat ibu, Nak.”
Bu Tuti melihat Ridho dengan tenang. Lalu memeluknya. Ia memperlakukan Ridho seperti anaknya sendiri.
Ridho membalas pelukan Bu Tuti. Ia lalu menangis dan berkata, “Maafkan Ridho, Bu. Ridho janji nggakakan mengulang perbuatan ini lagi. Ridho Janji Bu.”
Semua murid jadi terharu. Mereka menghampiri Ridho dan bu Tuti lalu memeluk guru tercintanya. Mereka berkata, “Kami sayang, Ibu.”
“Ibu juga sayang kalian,” balas Bu Tuti dengan melihat satu persatu muridnya sambil tersenyum. (*)