Setelah hilang dahaganya, anak kecil itu kembali ke tempat tidurnya. Tapi pada saat hendak kembali, ada suara bising di ruang tamu. Ia penasaran dan menghampiri tempat itu. Sesampainya di sana, anak kecil itu melihat tiga orang memakai topeng hitam. Mereka mengobrak-abrik ruangan. Sebelum ketahuan oleh mereka, anak kecil itu berlari menuju kamar. Lampu kamar ia nyalakan agar mudah mendapatkan pistol kesayangan. Pistol diambilnya dan berada ditangan. Bersiap-siap menembak jika mereka datang ke kamarnya.
Mereka tak kunjung datang. Anak kecil itu sedikit membuka pintu dan mengintip. Di luar kamarnya terdapat mereka, Ayah, ibu dan kakak. Tapi keluarganya tak berdaya dengan tangan dan kaki terikat serta mulut terlakban. Melihat kondisi itu, ia semakin tak ingin untuk keluar. Anak kecil itu hanya terpaku. Keringat keluar dari dahinya. Tubuhnya kaku, apalagi setelah melihat salah satu dari mereka membuka lakban di mulut Ayah dengan keras.
“Kau simpan dimana surat sertifikat kepemilikan perusahaan,Romi? Jika kau tak menjawab, kuhabisi istri dan anak kau,” ucap salah satu dari mereka kepada Ayahku.
“Surat itu ada di lemari kamarku,” jawab Ayah.
Mendengar jawaban Ayah, salah satu dari mereka pergi menuju kamar Ayah. Walaupun tinggal dua orang, anak kecil itu masih belum berani keluar. Padahal dalam hati kecilnya ingin sekali keluar menolong keluarganya.
Beberapa menit kemudian penjahat yang tadinya pergi kini telah kembali.
Ia berkata, “Bos, udah dicari gak ketemu juga.”
Seseorang yang dipanggil bos oleh temannya pun berkata, “Kau bohong, Romi.”
Tanpa pikir panjang bos itu melontarkan dua timah panas dari pistolnya. Satu peluru mengarah ke dada Ibu, yang lainnya mengarah ke kepala Kakak.
Suara pistol yang keras memekakkan telinga anak kecil itu. Darah keluarganya yang bermuncratan, membuta pandangannya sesaat. Kakinya menjadi lunglai. Jatuh terkapar di lantai kamar. Mata anak kecil itu mengeluarkan air dengan deras. Ia tak berani mengintip apalagi keluar dari kamar.
“Ayo beritahu dimana sebenarnya surat itu. Apa kau ingin menyusul mereka?” kata Bos.
Anak buahnya melepaskan tali yang mengikat Ayah. Mereka menarik Ayah untuk berdiri. Dengan tubuh lemas dan langkah yang tergopoh-gopoh, Ayah berjalan menuju gudang. Mereka membuntuti Ayah sembari menyodorkan pistol, berjaga-jaga agar ia tidak melawan atau kabur.