Pistol

Gudang itu cukup luas. Terdapat banyak barang antik yang tertata rapi. Tapi mereka tak tertarik dengan semua barang itu. Mereka masih fokus mengikuti Ayah. Hingga Ayah berhenti di hadapan sebuah brangkas.

“Cepat buka!” hardik salah satu dari mereka.

Ayah menuruti mereka. Ia memutar-mutar tombol brangkas. Tak menunggu lama brangkas itu terbuka. Ayah mengambil sesuatu dari dalamnya. Dengan secepat kilat, Ayah menancapkan sebilah pisau ke perut salah satu dari mereka. Dia, yang ditusuk Ayah tak dapat membalas. Rasa dendamnya diwakili oleh Bosnya. Peluru dari pistol Bos mereka, meluncur ke kepala Ayah. Kemudian tertanam dalam di pintu brangkas.

Satu hentakan keras sekali lagi berbunyi. Kembali memekikan telinga anak kecil itu. Ia menangis menjadi-jadi. Pistol yang di tangannya tak berguna sama sekali. Padahal dalam imajinasinya semua musuhnya dapat dihentikan oleh pistolnya. Tapi kenyataannya ia hanya di kamar meluapkan rasa takut. Hingga tangisnya terdengar oleh mereka yang telah puas mendapatkan apa yang diburu.

“Kamu kenapa anak kecil? Takut? Keluargamu sudah menjadi mayat? Haha..” kata Bos sambil tertawa sinis.

“Bos, jangan kelamaan di sini. Nanti warga curiga. Cepat kabur.” ujar anak buahnya tinggal satu-satunya.

Mereka pergi dengan cepat meninggalkan rumah, anak kecil dan pistolnya yang lemah.

***

Pria itu masih terdiam di depan gerbang. Hingga membuat pemilik rumah itu heran dibuatnya. Pemilik rumah itu keluar dan menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tawar pemilik rumah itu.

“Ohh, tidak, Pak. Andai saja peristiwa itu tak terjadi,” gumam polisi bertubuh kekar sembari menjauh meninggalkan tempat itu. ***

 

Bagus Sulistio, kelahiran Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Karya mahasiswa IAIN Purwokerto ini termuat dalam antologi Indah pada Waktunya (2018), Ya Allah Izinkan Kami Menjadi Birrul Walidain (2018), dan Retorik (2019); serta beberapa media massa. Domisili di Purwokerto.

Arsip Cerpen di Indonesia