Aku diam beberapa saat karena bingung, tapi kukatakan itu tidak penting. Ia bisa saja tidak memedulikan perkataan orang dan bukankah memang itu yang selama ini selalu Belly lakukan? Ia tidak pernah peduli dan terus bernyanyi. Belly mengerti, tetapi benci kenangan ketika dikurung. Ia takut dan mengira hantu di gudang mengintainya. Ia harus terus membuat semacam pembalasan agar menang di atas semua orang.
Belly tidak juga memencet bel di pintu kedua, tetapi ia juga tidak melakukan saranku menghitung siapa saja yang tinggal di pintu itu, yang kutahu pasti Belly hafal sesuai dengan cerita John. Belly tampak berpikir dan meremas jemarinya. Kerutan di dahinya bertumpuk dan aneh, karena kulit Belly secara keseluruhan seperti permukaan tulang yang halus.
Akhirnya ia mengikuti saranku dan menyebut satu demi satu nama siapa saja yang berada di pintu tertentu, tanpa memencet bel, sehingga tak ada kebisingan seperti biasa. Pintu demi pintu kami lalui dan akhirnya kuantar Belly ke ruangan miliknya karena hari sudah larut.
Belly bertanya apa aku lapar dan merasa ada yang tak beres dengan masakan yang kutemui di kota ini, sebab ia tahu aku belum menikah.
Kukatakan kadangkadang lidahku menemukan masalah, dan seseorang tak salah jika memberiku hadiah berupa masakan terenak di dunia. Belly terdengar senang dan ia berjanji mulai besok malam ia tidak lagi memencet bel di setiap pintu. Tentu saja aku senang mendengar itu. Tidak kusangka apa yang kulakukan, walau kecil, memberi perubahan besar.
Sayang, sore keesokan harinya kudengar kabar Belly mati dan aku belum bisa pulang untuk tahu apa yang terjadi dan melihat bagaimana orang mengurus jenazahnya. Belly mati dalam tidur siang hari di depan pintuku. Di sisinya, tergeletak sepanci sop.
Sekembaliku, apartemen ini terasa asing. Tidak ada Belly, segalanya seakan diputar tangan Tuhan. Kaki di kepala, kepala di kaki, dan aku tidak bisa berpikir selain bertanya pada John di mana kuburannya. John dengan senang hati mengantarku.
Kini, kubaca dalam hati nama itu, Belly, yang terukir di batu nisannya. Orang tidak tahu nama aslinya. Dia senang membunyikan bel di setiap pintu dan konon itulah yang membuat orang menyebutnya Belly. (28)
Gempol, 2017-2019
Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).