Oleh Nabila Anggraini (Analisa, 28 Juli 2019)

“Kak, nanti malam temani aku nonton film hantu, filmnya seru loh.”
“Dasar kamu ya Doni sudah tau penakut tapi masih saja nonton film horor,” ujar kakak Doni.
“Hehehe…habisnya aku suka kak, seru soalnya,” kataku.
“Iya, kakak temani,” katanya.
Itulah kakakku dialah yang selalu setia menemaniku menonton film setiap malam yaitu film horor.
“Don… Doni, filmnya sudah mulai ini,” panggil kakakku.
“Iya, Kak, tunggu sebentar,” aku berlari ke arah televisi.
Selama filmnya berlangsung aku menutupi wajahku dengan bantal sehingga hanya sedikit yang terlihat, itulah aku penakut tapi sok berani.
Setelah filmnya habis kakak mematikan televisi dan kami berdua bergegas tidur, tapi aku takut jalan sendirian ke kamar, aku takut ada yang muncul dari balik tembok. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang berbunyi dari arah kamarku dan membuatku semakin takut.
“Ma, mama di situ ya?” panggilku.
Tidak ada jawaban sama sekali.
“Kak Erik jangan nakuti aku deh,” kesalku.
Tetap tidak ada jawaban sama sekali. Aku semakin takut karena ternyata tidak ada siapa pun di sana.
Tiba-tiba saja aku melihat sesuatu yang berlari ke arahku, dan aku pun menutup mataku sambil menjerit.
“Mama… tolong akuuu, aku takuttt,” jeritku ketakutan dengan suara kuat.
Seisi rumah pun berlari menghampiriku karena aku menjerit.
“Ada apa, Doni, kenapa kamu menjerit,” kata mama dan lainnya yang terlihat panik.
“Ma, aku takut tadi ada yang berlari ke arahku, ada hantu, Ma,” kataku dengan ketakutan.
“Ya ampun, Doni, coba kamu lihat, itu bukan hantu tapi di Moci kucing kamu,” kata mama mencoba memberitahuku.