Ladang Kosong Kubur Ingatan

Pada awal musim tanam, ketika jagung mulai tumbuh dua jengkal, ibu segera menuju petak tegal di samping rumah, akan menggagahi rumput-rumput penghambat tanaman jagung, dari pagi hingga siang dan akan selesai biasanya dalam tiga hari. Setelahnya, baru memupuki tanaman jagung dengan kotoran-kotoran sapi dan betapa nikmat bila pada malam harinya, hujan turun melarutkan pupuk itu ke dalam akar-akar tanaman jagung kami.

Dan di selasar, bila hujan turun, entah malam atau siang, aku biasanya duduk bersama ayah, ibu dan nenek, menikmati butir-butir jagung yang digoreng bersama cangkarok, butiran nasi yang dikeringkan lalu digoreng seperti krupuk. Bila kadang ada waktu, hujan adalah ladang bermainku dan biasanya aku berlari menuju jalan utama kampung dan di sana, sudah pasti ada anak-anak yang sedang bermain, melupakan segala persoalan sekolah, dari PR hingga iuran sekolah.

Tetapi, itu semua hanya ingatan yang telah begitu lama terkubur dalam pada petak-petak waktu yang lampau. Masa silam itu telah hilang. Tak ada lagi tegal yang dihiasi tanaman-tanaman jagung pada musim hujan kali ini. Berpetak-petak tegalan itu hanya berpilin kekosongan, digurat oleh rerumputan liar, dikelilingi semak-belukar yang menakutkan. Tak ada tanaman jagung atau kacang-kacangan. Kesadaran untuk bertani di tegal sudah lewat dan menjadi budaya yang begitu usang. Waktu yang terus maju telah mengubur semua keinginan bercocok tanam.

Dan pada musim hujan kali ini, tumpahan air dari kolong langit sekadar pertanda musim hujan yang rutin. Hanya rumput yang mulai tumbuh dan dedaunan yang segera menjadi hijau. Tak ada kesejukan cocok tanam yang dapat dipandang sebagaimana dahulu. Tak ada tanah yang berhias tanaman. Serasa orang-orang kehilangan cara berkaca diri dan segalanya bergerak seolah tanpa rasa syukur pada sepetak tanah itu. Sapi-sapi tidak ada lagi di kandang. Pun kambing-kambing. Ayam-ayam tak lagi ramai berkokok merayakan musim lepasnya sisa jagung hasil panen sebelumnya. Orang-orang seperti tiba-tiba malas mengembala dan beternak. Ketika itu, umurku sudah bertambah dan ayah telah meninggal dunia.

“Kau tidak perlu risau dengan keadaan, tak ada orang mati kelaparan di tanah kelahirannya,” nasihat ayah menjelang malaikat maut memenggal umurnya.

“Kau tidak perlu ke mana-mana kelak, cukup jaga rumah ini bersama istri dan anakmu.”

“Taat saya untuk ayah,” jawabku.

“Jangan menjual perabot rumah, bisa-bisa kau kualat miskin.” Dan saya memang mendengar bahwa menjual perabot rumah bisa membuat seseorang celaka dan jatuh miskin.

Arsip Cerpen di Indonesia