“Saya dapat mengerti,” demikian aku menjawab.
“Jangan ikut turut nafsu menjadi kaya.”
“Saya dapat mengerti.”
Dan tidak hanya itu, tahun-tahun selanjutnya, rumah-rumah di kampung ini pun perlahan menjadi kosong, tepat sejak dua puluh tahun terakhir ini. Sawah tinggal kenang bagi tanaman. Kemarau memotong lidah-lidah pohon. Bahwa dahulu yang sekadar ingatan, orang-orang pernah hidup sederhana dengan bercocok tanam. Ingatan masa lampau sekadar yang menjijikkan untuk dikenang kali ini. Orang Pulau Raja, satu demi satu, menyeberang ke induk pulau, ke daratan Madura dan di sana, mereka memesan tiket perjalanan, menaiki bus jurusan Jakarta, dan berbisnis di sana.
Waktu telah mengantarkan setumpuk perubahan yang tiada pernah aku mengerti. Masa cocok tanam itu berlangsung ketika aku masih kelas satu sekolah dasar hingga kelas lima. Dua puluh tahun kemudian perubahan telah terjadi seperti tanpa pernah berjeda sama sekali. Perahu-perahu nelayan di sepanjang garis tepi Pulau Raja juga telah hangus oleh perubahan dan rel waktu. Beberapa perahu teronggok rusak di sisi pantai. Beberapa ada yang masih dirawat tetapi juga tidak penuh gairah. Beberapa lagi pindah tangan dan dilepas begitu saja. Bukan ikan-ikan telah habis, tetapi tuntutan menjadi kaya telah tidak bisa dibendung dan para nelayan ini pun berlabuh ke daratan Madura dan di sana mereka hendak membeli tiket jurusan Jakarta dan berbisnis dengan cara-cara yang modern.
Dan ketika umurku sudah menuju enam puluh delapan tahun, pulau ini benar-benar telah menjadi kuburan menyeramkan. Aku merekamnya dengan teramat baik. Bila musim lebaran tiba, orang-orang begitu ramai. Mereka berpakaian baru. Orang-orang itu sudah tidak kukenali lagi. Kadang datang bertandang ke rumah sambil membawa pakaian—memberikannya padaku.
Orang-orang itu sering menyantuniku. Kadang pula membawa beras dan menyalamiku uang. Barulah aku sadar betapa aku sudah berpangkat miskin hanya karena profesiku tidak pernah berubah; hanya bercocok tanam. Dan barangkali sebab rumahku tiada berbenah, masih bangunan kuno yang menyiratkan ketidakmampuan harta untuk membangunnya menjadi baru, aku terlihat berhak disantuni.
Sebab tidak tahan, di depan pagar rumah sudah kupasangi plang: Bukan orang tidak mampu, tidak menerima santunan. Tetapi masih banyak orang-orang datang kemari memberi beberapa lembar uang.
Kata salah satu dari mereka, “Doakan bisnis saya di Jakarta lancar.”
Dan kata salah seorang lainnya, “Doakan semoga saya lekas membangun rumah, Kiai.”