Pukul 06.15 WIB di sekolah.
Para siswa terlihat berkerumun di depan mading sekolah. Sandra yang baru saja sampai di sekolah juga penasaran. Ada apa sebenarnya? Apakah ada pengumuman penting? Sandra meminta ruang pada teman-temannya agar dia bisa melihat isi mading.
Mata Sandra membelalak tak percaya saat melihat isi mading. Di sana ada fotonya dengan tulisan besar: SANDRA SI TUKANG PENCURI. Air mata Sandra tak dapat dibendung lagi. Teman-teman di sekitarnya pun mulai mengolok-olok. Sandra berlari di sepanjang koridor kelas. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Mona.
“Kamu kenapa, San?”
Sandra tidak menjawab, hanya linangan air mata sebagai gantinya.
“Memangnya kamu belum lihat mading hari ini?”
“Ada apa sih memangnya?” Mona balas bertanya.
“Ini, baca!”
Selembar kertas bertuliskan “SANDRA SI TUKANG PENCURI” itu dilayangkan di depan Mona. Mona segera memungut dan mulai membacanya. Dia menatap Sandra dan mencoba menenangkannya.
Mona akhirnya menjelaskan semuanya. Bahwa dua hari yang lalu Sandra sempat bercerita kalau gaun merah itu dibeli dari hasil dia berjualan pisang goreng selama ini. Laba dari penjualan dikumpulkan sedikit demi sedikit. Mona juga bilang kalau dia sering membeli pisang goreng itu jika Sandra lewat di depan rumahnya.
“Nah, sekarang sudah jelas, kan? Jadi jangan asal menghakimi seseorang kalau kita belum ada bukti apa-apa.”
“Tapi, Mon. Siapa yang tega melakukan ini sama Sandra?”
“Iya. Harusnya dia minta maaf, tuh!”
Murid-murid semakin riuh berkomentar. Sementara itu, Alexamundur beberapa langkah sambil terus menunduk. Mona menatap Alexa dengan tajam.
“Apa kamu pelakunya, Lexa?”