Kesibukan luar biasa itu sukses membuat Siti Alimah melupakan penderitaan akibat perceraian dengan lelaki yang telah membangun rumah tangga bersamanya selama enam tahun. Ia memang pernah mendengar bahwa melukis atau menulis merupakan terapi yang bagus untuk orang-orang yang sedang limbung. Dan satu-satunya alasan kenapa ia tidak memilih kelas menulis dan malah pergi ke kelas melukis adalah bahwa kelas melukis itulah yang ia lihat iklannya. Ia tak tahu mesti mencari kelas menulis di mana.
Sang guru gembira melihat semangat dan perkembangan kemampuan Siti Alimah. Dalam dua bulan, Siti Alimah sudah bisa melukis di atas kanvas menggunakan cat minyak. Perempuan itu suka menggambar kamar mandi. Kamar mandi kotak, bulat, berdinding kaca, berkeramik, berlantai batu kali, kamar mandi dengan pancuran, kamar mandi yang hanya berisi ember kecil, kamar mandi yang dipenuhi ikan-ikan, kamar mandi dengan tembok dilapisi emas, dan lain sebagainya.
“Ada apa dengan kamar mandi?” tanya gurunya suatu kali. Lelaki itu tidak mengerti apa yang indah dari kamar mandi hingga Siti Alimah tak jenuh-jenuh melukisnya. Ia sesungguhnya menginginkan murid-muridnya menggambar pemandangan, musim panen, atau bunga-bunga. Lukisan-lukisan semacam itu bisa dipajang di pinggir jalan dan gampang laku meski murah. Pada masa mudanya, sang guru yang hidup menggelandang tersebut telah banyak mencoba genre lukisan, dari surealisme hingga abstrak. Namun, hingga bertahun-tahun, tak ada satu pun kolektor atau galeri yang tertarik pada karyanya. Pada waktu itulah, dengan perut lapar dan putus asa, ia melukis panen padi di sebuah kaki gunung. Ia meletakkan lukisan itu di trotoar dan duduk di samping lukisan tersebut, menekuk lutut, dan menenggelamkan kepalanya di antara dua lutut tersebut. Satu jam kemudian, seorang pengemudi mobil berhenti, bertanya berapa harganya, dan langsung membelinya. Sejak itu ia tahu, di mana ia harus berdiri dalam rimba kesenian yang demikian buas.
“Aku hanya suka kamar mandi,” jawab Siti Alimah, sebuah jawaban yang sepertinya tidak memuaskan bagi sang guru.
“Ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang kamar mandi, dan itu muncul dalam lukisanmu,” kata sang guru. Mata tuanya, yang telah banyak menyaksikan lukisan, tidak bisa dibohongi begitu saja.
Siti Alimah menghela napas panjang. Ia melonggarkan bajunya, meregangkan otot-otot tangannya, lantas bangkit dari tempat duduknya dan berbisik ke pangkal telinga sang guru. “Aku menyukai kamar mandi dan aku bercerai karena kamar mandi,” desisnya. Sang guru refleks menoleh. Dan, karena jarak muka mereka begitu dekat, apa yang dilakukan sang guru membuat mereka berdua hampir berciuman. Bau tembakau dari mulut sang guru menyergap hidung Siti Alimah yang mancung dan berminyak. “Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapa-siapa. Dan aku juga tidak ingin Bapak tahu lebih banyak ketimbang apa yang barusan kukatakan. Urusan kita adalah kelas melukis. Tidak lebih,” ujar Siti Alimah.