Kelas Melukis

Sang guru mengangguk. “Maafkan aku,” katanya. “Memang tidak seorang pun berhak mencampuri urusan orang lain.”

Siti Alimah kembali ke tempat duduknya dan sang guru berkeliling ke siswa yang lain. Ia meraih kuas dan menatap kanvas. Pikirannya tiba-tiba terasa penuh. Itu pasti efek samping dari pembicaraannya dengan sang guru barusan. Sedemikian penuh pikirannya hingga ia tidak bisa menuangkan satu saja pikiran itu ke dalam kanvas. Setengah jam ia bengong di depan kanvas, dengan kuas tergantung lunglai di tangan kanan. Pada akhirnya, ia pamit pulang lebih awal.

Ia membanting dirinya di atas tempat tidur. Di situlah dulu suaminya kerap menggumulinya. Ia masih mencium bau keringat lelaki itu. Lelaki yang selalu saja marah setiap kali Siti Alimah menghabiskan waktu duduk meringkuk di dalam kamar mandi. Awalnya, lelaki itu akan menjerit-jerit dan menggedor pintu kamar mandi, dan tak berapa lama kemudian ia sudah membanting piring atau vas bunga.

“Kau gila. Kau sudah gila, dasar perempuan terkutuk!” teriak suaminya. Dan, setiap kali itu pula, Siti Alimah semakin betah mengurung diri di dalam kamar mandi. Setelah berjam-jam yang mengerikan, setelah lantai penuh pecahan beling dan suaminya terduduk di sofa kecapekan, Siti Alimah akan keluar dari kamar mandi, memeluk lelaki itu, dan berkata, “Aku mencari kedamaian.”

“Kau tidak merasa damai duduk di sampingku?” suaminya bertanya lemah. Matanya bengkak dan pipinya sembap.

Siti Alimah menggeleng. “Kedamaian seperti masa kecil,” gumamnya.

Suaminya tahu Siti Alimah menjalani masa kecil yang unik. Ia memiliki tenaga yang tak habis-habisnya. Dan, dengan pasokan tenaga itu, Siti Alimah terus berceloteh, berlarian, memanjat tiang rumah, tiba-tiba sudah berada di seberang jalan raya, duduk-duduk di wuwungan rumah, dan lain sebagainya. Capek menghadapi tingkah Siti Alimah, orang tuanya kemudian mengunci Siti Alimah di kamar mandi. Kadang, pasangan itu lupa hingga berjam-jam dan baru ingat setelah mereka hendak pergi ke kamar mandi untuk kencing atau mandi. Waktu-waktu Siti Alimah yang berharga ia habiskan di kamar mandi. Ia lalu jadi pemurung, penyendiri, dan kadang kala, tanpa dipaksa oleh orang tuanya, Siti Alimah akan masuk sendiri ke dalam kamar mandi, duduk meringkuk berjam-jam dengan pakaian yang basah. Kebiasaan berdiam di dalam kamar mandi itu terbawa hingga Siti Alimah menikah. Dan, setelah enam tahun, lelaki itu akhirnya menyerah. Lelaki itu merasa dirinya tidak berarti apa-apa bagi Siti Alimah. Lelaki itu tidak bisa membuat Siti Alimah merasa damai dan terlindungi. Hanya kamar mandi yang bisa. Dan, dalam sidang perceraian, lelaki itu berkata, “Perempuan itu seharusnya menikah dengan kamar mandi, Yang Mulia.”

Arsip Cerpen di Indonesia