
“Kabar Bapak dan Ibu baik dan sehat, ya?” tanya Pak Dhe Suto lagi. Bayu langsung mengangguk spontan. Tapi kemudian dia meringis geli saat tersadar bahwa dia saat ini sedang berbicara di telepon.
“Hehe, iya baik, Pak Dhe. Kabar Pak Dhe sekeluarga baik juga, kan?” gantian Bayu yang bertanya.
“Iya, alhamdulillah baik, Bay.”
Selanjutnya, Pak Dhe pun menanyakan keberadaan Bapak dan Ibu. Soalnya, barusan beliau menelepon Bapak tapi handphone-nya tidak aktif. Bayu pun menjelaskan bahwa Bapak dan Ibu sedang menghadiri hajatan tetangga. Kebetulan handphone Bapak tak dibawa, karena low bat dan saat ini sedang diisi baterai. Akhirnya, Pak Dhe Suto pun bercerita pada Bayu, bahwa tahun ini beliau ingin memberi hadiah kepada Bapak berupa seekor kambing.
Begitu mendengar kambing, Bayu langsung teringat keinginan Bapak beberapa waktu lalu yang ingin sekali membeli kambing untuk digunakan sebagai hewan kurban pas hari raya Idul Adha tahun ini yang kurang seminggu lagi. Waktu itu Bapak bercerita tentang hikmah kurban. Dua di antara sederet hikmah berkurban yang Bayu ingat adalah sebagai bentuk ketakwaan kita kepada Tuhan, sekaligus untuk menghilangkan sifat pelit yang ada dalam diri kita.
Sayangnya, hingga saat ini tabungan Bapak masih belum mencukupi untuk membeli seekor kambing kurban. Bapak lantas bilang kepada Bayu, bahwa kemungkinan tahun ini belum bisa berkurban. Tapi Bapak berjanji pada Bayu, akan berusaha menabung lebih gigih agar tahun depan bisa membeli seekor kambing yang besar dan gemuk untuk berkurban. Maklum, Bapak bukan orang kaya raya seperti Pak Dhe Suto. Keseharian Bapak hanyalah menjadi buruh genteng di Sokka, salah satu daerah di kota Kebumen yang selama ini dikenal dengan pabrik gentengnya. Genteng-genteng di daerah Sokka memang terkenal bagus kualitasnya, terbuat dari adonan tanah liat yang kemudian dicetak dan dikeringkan dengan paparan sinar matahari.
“Serius nih, Pak Dhe mau beliin Bapak kambing?” tanya Bayu saking tak percayanya.