Kedua, aku salut akan sikapmu. Sungguh aku sangat sayang padamu, namun jika kamu ingin melepas tali ini, aku siap. Aku akan siap juga untuk menunggumu dalam hubungan atap yang halal.
Mirna, mujahidah yang dicintai Allah.
Semoga engkau dalam keadaan baik-baik saja di sana dan dalam lindungan-Nya.
Wassalam
Tertanda
Samsul Bahtiar
Aku tersenyum puas membalas e-mail Mirna, setelah itu mengklik salah satu grup menulis di Facebook yang membuat terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak? Ternyata cerpen yang kukirim menjadi pemenang ketiga. Dan aku akan mendapatkan sebuah paket buku senilai dua ratus ribu rupiah serta voucher penerbitan tiga ratus ribu.
Tak henti-hentinya aku berucap syukur, jalanku untuk menerbitkan buku sudah di depan mata. Meskipun menerbitkannya secara indie. Tapi aku tak kehilangan semangat untuk terus dan terus menulis.
***
Dua tahun bukan waktu yang singkat kujalani semua ini dengan indah, bahkan sangat indah. Kini hari-hari kuisi dengan kegiatan yang bermanfaat mulai dari menjadi pemateri seminar, temu pembaca, acara bedah buku, dan acara lain yang berhubungan dengan dunia literasi.
Meskipun kegiatanku begitu padat, tapi tak pernah merasa letih. Terlebih Ibu selalu memotivasi untuk terus melaksankan kegiatan-kegiatan tersebut, namun sayang harapannya agar aku cepat menikah, tak kulaksanakan.
Mirna, bagaimana kabarmu? tanyaku dalam batin.
“Untuk selanjutnya pemateri kedua, Mas Samsul Bahtiar, penulis Islami. Beliau akan membahas tentang novel remaja Islam (Nori) dan Fikri (Fiksi Remaja Islam). Kepada beliau dipersilakan,” kata moderator menghentikan lamunanku.
“Dalam menulis, ada tiga langkah yakni menulis, menulis dan menulis. Tak ada cara lain menulis selain menulis itu sendiri. Di setiap tulisan yang akan kita buat haruslah mengandung manfaatnya. Setiap penulisan fiksi Islami, kita tak harus mengutip hadits atau ayat Al-Qur’an yang terpenting adalah isi ceritanya mengandung unsur-unsur islami, seperi pada penulisan novel Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain,” terangku.