“Demikianlah materi yang disampaikan oleh Mas Samsul, setelah diskusi ini saya akan membuka dua sesi pertanyaan dan di setiap sisi ada tiga penanya.”
Langsung banyak telunjuk yang mewarnai gedung rektorat Universitas Paku Alam ini, sesi pertama selesai. Moderator membuka sesi kedua. Tak disangka penanya di sesi ini jauh lebih banyak. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati sebuah hadiah dari salah satu peserta di pengujung acara seminar.
Kubaca cerpen ini, cerpen yang ditulis dengan tinta emas ini. Kuingat masa silam yang kurajut bersamanya. “Aku tak tahu, mengapa hal ini terjadi. Kau tak pernah memberi kabar padaku, begitupun diriku yang tak pernah memberi kabar padamu. Tapi ketika dua hati telah berjumpa di setiap pengujung istikaharah. Aku semakin yakin, bahwa di ujung sana kau pasti menunggu. Selama napas ini terus berjalan, selama itu pula aku akan menunggumu untuk meminangku. Cerpen ini kutulis dengan cinta, karena dengan cerpen ini aku bisa mengatakan bahwa aku masih mencintaimu.”
“Selamat dan sukses ya?” sapa seorang perempuan di belakangku.
“Mirna…”
“Ya Allah, betapa kurindu dirimu, ini cerpenmu, ya?”
“Iya, dan itu untukmu.”
“Insya Allah aku siap untuk meminangmu.”
“Dan kita akan menjalin hubungan rumah tanga penuh dengan tulisan indah. Kuingin melahirkan bibit-bibit penulis unggul Indonesia, agar mereka semua bisa mengatakan cinta dengan cerita cinta di bumi Indonesia.”
* Desember 2016.