Pendekar di Barat

Ketiga pendekar kiriman itu mulai kesal sebab Gassing bertahan seperti namanya. Dia kuat tak tergoyahkan pukulan di punggung dan tendangan di betis. Satu di antaranya melayangkan parang ke bahu kanan Gassing. Sayatan itu memutuskan urat besar di lengannya. Gassing menangkan diri, meminta sabda angin mengeringkan aliran darah itu. Satu musuh lain menancapkan badik di pinggang Gassing, goyahlah pendiriannya. Gassing meminta Tanah Tumbuh menahan tubuhnya, sebab ia berkenan melesatkan tendangan ke wajah-wajah musuhnya. Mereka tersungkur, namun sebentar saja tongkat besi menghantam tulang rawan Gassing. Pendekar dari Barat itu tersungkur, memberi kesempatan kepada ketiga musuhnya untuk menyayat-nyayat tangan kanannya. Begitu membabibuta sampai tangan kanan itu lepas dari gantungannya, terjatuh ke tanah. Putihnya tulang begitu silau.

Gassing mengangkat kedua tangannya, kepada penguasa alam ia meminta kekuatan. Angin dan ombak bergerak tidak normal, Gassing menyambut serangan lanjutan. Ia kini memiliki senjata tajam, tulang putih yang ujungnya telah diruncingkan parang musuh. Di belakang sana, anaknya menyaksikan kengerian itu terisak-isak. Lawan memberinya parang, Gassing membalasnya dengan tulang. Di dalam malam yang panjang itu, Gassing tetap menjadi dirinya, melawan untuk melindungi kampungnya. Ketiga musuhnya terpukul mundur, satu sekarat. Gassing memungut potongan tangannya dan membawa dirinya ke rumah sakit terdekat.

Berbulan-bulan Gassing menjalani perawatan di rumah sakit dan anaknya sudah sembuh berkat khasiat air kelapa muda. Anaknya menceritakan bahwa selama Gassing tidak jauh dari pulau, meski masih meyakini kekuatan Gassing, warga kampungnya berhasil dipecah-belah oleh orang di daratan. Ketiga pendekar kiriman itu adalah kedatangan gelombang pertama. Gelombang selanjutnya bertandang dengan mobil untuk menghancurkan rumah-rumah. Sementara kapal proyek datang untuk mengubah Tanah Tumbuh menjadi Tanah Datar. Mendidih darah Gassing mendengarkan itu, namun istrinya yang penyabar terus mengingatkan Gassing bahwa ia seorang diri tidak dapat melakukan perlawanan.

Di dalam bangsal, saat semua penunggu pasien sedang tertidur, Gassing menghubungi Pendekar di Utara dan di Selatan. Ia mendapatkan jawaban yang perih. Dari Utara, pendekar laut berkutat melawan kapalkapal penggali yang sepertinya tak berkurang jumlah meski telah ditakut-takuti paus purba. Dari Selatan, nelayan telah menjual jala ikan dan kapal tangkap untuk membeli telepon genggam atau motor. Gassing Kerabatnya kehilangan hal-hal yang menjadikan mereka manusia.

Meski tersambung kembali, tangan kanan Gassing tak lagi dapat dipakai mendayung atau menyalakan mesin kapal selincah dahulu. Dibantu anaknya, ia mengendarai lepalepa menuju Tanah Datar, yang di kejauhan sudah kehilangan hijau. Dahulu, dari bibir pantai, matahari terbenam di antara rerimbunan bakau, seolah pergi dan berkata akan kembali lebih indah lagi keesokan harinya. Di atas Tanah Datar tidak ada lagi rumahnya, juga rumah tetangganya, atau rumah para sahabatnya. Di atas Tanah Datar dibangun gedung-gedung bertingkat, dermaga cantik untuk berswafoto, gazebogazebo untuk bercengkrama, dan lahan parkir ballakaklolo.

Arsip Cerpen di Indonesia