Pendekar di Barat

Gassing berjalan tenang menuju titik di mana dahulu rumahnya hadir bersahaja. Dia sendiri yang menancapkan bambu sebagai pagar dengan dua pohon kelapa sebagai gerbang. Rumahnya berdinding gamacca dan bagian bawahnya dipakai untuk mengantung jala atau menyiapkan jemuran ikan. Di halaman rumah, bila ia dan istrinya mengemas hasil tangkapan, kesepuluh anaknya pasti bermain, sisiran, atau menghisap tembakau. Begitulah kehidupan yang bahagia dalam pemahaman seorang Pendekar Laut di Barat dan kini ia tak tahu lagi bagaimana memaknai kebahagiaan setelah melihat bangunan yang menggantikan rumahnya. Masjid megah berdiri di hadapannya, kubah-kubahnya begitu banyak berbaris rapih ke atas. Saat semburat senja pertama hadir, masjid itu bersinar jingga pula. Halaman tempat dia dan keluarganya dahulu memanjatkan puji syukur, kini dipenuhi wajah-wajah asing yang berfoto sembari meminum teh dalam kemasan.

Gassing dan anak sulungnya kembali ke perahu. Dia berkata kepada anaknya bahwa cita-citanya sebagai nelayan hebat jangan ikutan terganti. “Sekarang, arahkan perahu ke tengah laut lepas. Selama ini kau belum sempat belajar menangkap ikan di malam hari”. (*)

 

Rezkiyah Saleh Tjako. Lahir di Makassar, 18 November 1990. Penulis adalah alumni Sastra Inggris Universitas Hasanuddin yang banyak menghabiskan waktunya mempelajari foklor, berpetualang, dan terlibat dalam diskusi-diskusi kebudayaan. Email the.artjako@gmail.com

Arsip Cerpen di Indonesia