Pertemuan Ketujuh

Kursi dan meja favoritku terletak di ujung. Dari situ aku bisa melihat pesawat yang mendarat dan lepas landas;  juga melihat pintu kedatangan serta taman bougenvil di lapangan parkir. Di sanalah aku pertama kali melihat gadis itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun, dari “pertemuan” pertama itu aku mengetahui banyak hal tentangnya. Ia datang diantar seluruh keluarganya dan serombongan temannya. Mereka duduk di kedai sekitar tiga puluh menit. Pertama ia datang bersama bapak, ibu dan ketiga adik lelakinya, lalu datang pula keluarga pamannya dan kemudian satu per satu atau berdua teman-temannya berdatangan. Ia nampak ceria sekaligus sedih. Aku paham betul perasaaan itu. Mereka yang akan bepergian dalam waktu lama untuk sesuatu yang baik tetapi akan berpisah dari keluarga nampak sering menunjukkan emosi seperti itu. Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka tetapi dari tempatku duduk hampir semua pembicaraan terdengar, entah sayup-sayup atau bahkan ketika teman-temannya muncul suara mereka sungguh riuh. Pertama aku mendengar adiknya memanggilnya Kak Dara, lalu kawan-kawannya muncul dan menyebutkan namanya Cut Dara. Rupanya Cut Dara akan terbang ke Lhokseumawe untuk transit lalu melanjutkan ke Johor Bahru di negeri jiran. Ia diterima bekerja di perusahaan yang mengembangkan drone. Aku tak terlalu mengerti beberapa istilah yang dibicarakan Dara bersama teman-temannya tetapi nampaknya ia akan bergabung dengan tim yang mengembangkan pesawat kecil tak berawak untuk pengawasan tanaman padi. Semua teman-temannya, ternyata adalah mahasiswa dan mahasiswi atau alumni Teknik Industri Universitas Aceh. Aku sendiri belum pernah ke kampus itu tetapi dari pembicaraan orang-orang sepertinya itu salah satu kampus favorit. Hari itu Dara nampak cantik sekali di mataku. Ia memakai baju longgar berwarna hijau pupus sepanjang lutut, celana kulot hijau gelap dan jilbab bermotif geometrik berwarna kombinasi hijau pupus dan hijau gelap. Aku tiba-tiba jadi suka sekali warna hijau.

Aku tahu di tempat seperti ini kadang bertemu seseorang sekali saja lalu mereka menghilang dalam keramaian tanpa pernah berjumpa lagi. Jika pun kita sempat mendengar namanya, saat kita cari di situs pencari Google belum tentu ketemu. Aku pernah dengar seseorang mengatakan hal itu. Satu-satunya kesempatan adalah jika aku menyapa dan bertanya alamat rumah atau nomor telepon. Tetapi rasanya janggal jika aku bertanya hal itu sekarang karena belum berkenalan. Sebelum aku sempat memutuskan mereka sudah bergerak karena sudah mendekati waktu keberangkatan.

Arsip Cerpen di Indonesia