Pertemuan Ketujuh

Aku begitu ingin menghampiri mereka. Kuberanikan diri mendekat. Aku melihat bahwa Dara akhirnya melihatku. Sekilas di mataku nampak sesaat ditengah kedukaannya ia seperti terkaget. Ia memandangku sejenak seperti mencoba mengingat wajah teman yang lama tak bersua. Aku mulai berjalan ke arah mereka tetapi sayangnya rombongan mereka juga bergegas pergi.

Hari demi hari aku menanti Dara. Tapi entah apa yang terjadi. Ia tak juga muncul. Entah ia tak lagi bekerja di sana atau mungkin ia mengambil rute lain.  Tiga bulan aku memantau kedatangan dan keberangkatan pesawat tetapi tak juga ia muncul.

Di bulan kelima aku melihat dua temannya di kedai. Aku masih ingat mereka. Aku berdebar mendengar mereka membicarakan Dara. Ia baik-baik saja dan sepertinya ada seseorang yang menaruh hati padanya. Tapi ia belum memutuskan. Ah, aku betul-betul harus bicara padanya saat berjumpa nanti. Aku berusaha menangkap di mana dia tinggal tetapi sayangnya kedua temannya tak membicarakan hal itu sama sekali.

Dua bulan kemudian aku akhirnya melihat Dara lagi. Ia duduk cukup lama di kedai. Di mejanya nampak segelas es teh yang belum diminum. Wajahnya terkadang masih tampak sendu tetapi kurasa ia mulai pulih dari kesedihannya. Kadang ia bahkan seperti tersenyum. Akhirnya aku memberanikan diri mendekat ke mejanya. Ia melihatku. Ia tersenyum. Aku pun tersenyum. Dara mengulurkan tangannya. Badanku gemetar. Ia langsung mengusap kepalaku lembut. Aku merasakan tangannya dan merasakan ada cincin di jarinya. Benar, ketika tangannya melintas di depan mataku, aku melihatnya. Aduh! Sepertinya itu cincin pertunangan. Aku tambah gemetar. Sepertinya aku terlambat. Tapi Dara juga menyentuh daguku. Lalu tiba-tiba saja teleponnya berdering. Di layar muncul gambar seorang lelaki gagah. Ia menyapa Dara dengan ucapan, “Hi, Honey.” Mata Dara berbinar-binar mendengarnya. Duniaku pun serasa runtuh. Aku mundur tetapi menyenggol gelas minuman. Tumpah! Dara terkejut. Gelas itu lalu bergulir dan pecah berderai di lantai kedai dengan suara praaaaaaang! Semua orang juga terkejut dan menoleh ke arah kami. Aku mengeong sekeras-kerasnya, lalu melompat, menghilang cepat ke arah perdu bougenvil di lapangan parkir.

 

Mei 2019

S. Agustina, peminat sastra.

Arsip Cerpen di Indonesia