Malam Penantian Hasan

Cerpen Miftachur Rozak (Radar Mojokerto, 11 Agustus 2019)

Malam Penantian Hasan ilustrasi Radar Mojokerto (1)
Malam Penantian Hasan ilustrasi Radar Mojokerto

Gemintang pada malam itu merona-rona di langit. Menyebar bagai kawanan kunang-kunang yang menari; mengitari  rembulan yang purnama itu. Tampak juga awan-gemawan saling mendekap; menyamarkan sinar rembulan. Sungguh, malam dengan panorama yang memanjakan mata. Bagai lukisan raksasa yang terbentang di angkasa.

Malam-malam dengan panorama indah seringkali dinanti oleh anak laki-laki yang bernama Hasan . Anak laki-laki usia tujuh tahun yang baru saja naik kelas tiga sekolah dasar.  Ia sering menyendiri di atas rumahnya. Berbaring terlentang di atas genting, dengan berbantal kedua tangannya. Matanya fokus tertuju pada bulan purnama itu. Ia  sering menanti malam-malam itu. Malam Purnama penuh kenangan bersama ibunya.

Setelah kepergian Ibunya, Hasan sering menyendiri. Kebahagiaanya sudah tidak terlihat layaknya dulu. Ia lebih sering merenung, bertingkah aneh, bahkan sering menguji kesabaran orang-orang di sekitarnya. Keanehan-keanehan itu sangat tampak pada perilakunya yang sering memanjat genting rumahnya, sering berbicara sendiri, bahkan berteriak-teriak di malam hari. Pernah juga ia membuat layang-layang seukuran raksasa; besar dan tingginya melebihi ukuran tubuhnya yang kurus itu. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada diri Hasan.

Hingga suatu sore; tepatnya bada Ashar, ayah Hasan mencoba mendekatinya; Hasan sedang memperbaiki layang-layang besar yang ia buat tempo lalau. Ayah Hasan ingin tahu, sebenarnya apa alasan Hasan membuat layang-layang sebesar itu. Ia juga ingin tahu, kenapa Hasan sering naik di atas genting sembari berteriak-teriak. Namun, hal itu sia-sia. Sedikitpun tak ada jawaban yang keluar dari mulut Hasan. Ia memilih diam dan terus melanjutkan memperbaiki layang-layang itu. Tanpa memedulikan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ayahnya.Hasan tetap bersikap apatis terhadap ayahnya. Selalu diam seperti hari-hari yang lalu.

Ayah Hasan pun menyadari sikap anaknya itu. Karena ayah hasan juga merasa bersalah terhadapnya. Waktu kecil. Waktu ibu Hasan masih ada: ayah hasan hampir tidak pernah mendampingi Hasan bermain, tidak pernah mendampingi belajar, dan hampir tidak pernah berdialok dengan putra semata wayangnya itu. Maklum, ayah hasan terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Baginya, bekerja adalah tugas seorang ayah. Dan, menjaga anak adalah tugas seorang ibu. Namun, setelah ibu hasan meninggal: ayah Hasan baru menyadari dari efek yang timbul dari sikap putranya itu. Ayah hasan menyesal. Ayah Hasan merasa dibalas oleh putranya. Hari-harinya tanpa kedekatan layaknya ayah dan anak. Mereka seperti orang yang tidak pernah mengenal.

Penyesalan ayah Hasan kian berkecamuk. Seakan menyiksa dirinya. Ia tidak kuat lagi dengan keadaan semacam itu. Hingga ia memutuskan untuk tidak meninggalkan putranya lagi. Ia memutuskan bekerja apaadanya; yang penting dekat dengan anaknya. Ia ingin mengganti hari-hari kebersamaan dengan Hasan yang berlalu. Mengganti hari berkualitas dengan putra semata wayang itu.

Seiring waktu berlalu. Kedekatan Hasan dan ayahnya kian tampak. Ayah Hasan mulai mendekatinya secara pelahan: ikut bermain dengan putranya, tidur didekatnya, mengelus rambutnya, dan kegiatan-kegitan lain. Walaupun kadang sikap apatis putranya itu muncul, namun ayah Hasan tetap mengontrol emosinya. Ia terus bersikap sabar dan tawakal.

Rupanya: sikap tawakal dan kesabaran ayah Hasan berbuah hasil yang tak sia-sia. Ia mulai menghipnotis sikap Hasan. Mulai mampu mengendalikan sikap apatis anaknya. Kesempatan itu digunakan ayahnya sebaik mungkin; seabagai penebus kesalahan-kesahalan pada hasan tempo lalu. Pertanyaan-pertanyaan kecil mulai diserukan pada hasan.

“Hasan, apakah yang hendak engkau lakukan pada layang-layang itu?. Engkau anak cerdas nak. Bagus sekali layang-layangmu itu. Bolehkah ayah membantu menerbangkannya?”

“Layang-layang ini aku buat untuk ibu. Akan aku terbangkankan malam nanti. Tepat di bulan purnama malam ini”.

Jawaban Hasan itu mampu membuat ayahnya tersenyum. Seakan memberi kode: bahwa Hasan sudah mulai menerimanya. Dengan sigap, ayah langsung mendekati Hasan, sembari menyerukan pertanyaan-pertanyaan lain.

“Lantas, bagai mana caramu memberikan layang-layang itu pada ibumu Hasan?, bukankan ibumu sudah tenang di alam Surga?”

“Setiap malam purnama, Ibu pasti berada di rembulan. Iya sedang melihatku.” Dengan penuh keyakinan Hasan menjawab pertanyaan dari ayahnya. Hasan pun mulai menceritakan tentang dongeng-dongeng yang pernah ia dengar dari almarhum ibunya.

Bukan tanpa alasan, Hasan sering tidur di atas genting, berteriak di malam hari, bahkan sampai membuat layang-layang raksasa. Itu semua dilakukan atas dasar dongeng-dongeng dari ibunya. Hasan pernah mendengar: bahwa ketika bulan purnama; bidadari sedang bersemayam di sana. Hasan juga pernah mendengar, bahwa wanita shalihah seperti ibunya; akan menjadi bidadari jika sudah meninggal. Dari dongeng-dongeng tersebut, Hasan berpikir: bahwa ibunyapun menjadi bidadari, dan bidadari itu selalu bersemayam di bulan purnama.

***

Hubungan Hasan dan ayahnya kini sudah membaik. Tidak ada jarak diantara mereka. Hasanpun sudah mulai bermanjaan pada ayahnya; meminta sesuatu atau sekedar dongeng malam dari ayahnya. Hingga malam itu: malam purnama yang dinanti-nanti Hasan. Ia tidak segan mengajak ayahnya untuk menerbangkan layang-layang yang ia buat. Mereka berdua naik di atas genting, menyapa malam yang penuh gemintang itu. Juga rembulan yang tampak purnama itu.

“Hasan, apa yang kau tulis itu?” sembari mengelus rambut Hasan, ayahnya menatap selembar kertas yang tertempel pada layang-layang itu.

“Aku menuliskan sebuah surat untuk ibu, bahwa aku rindu sama ibu. Aku juga ingin ibu tahu, bahwa malam ini aku tidur bersama rembulan dengan ayahku.” Sambil menerbangkan layang-layang itu, Hasan tampak tersenyum. Ia yakin bahwa ibunya pasti melihatnya; melihat mereka berdua dari bulan yang purnama itu. ***

 

Miftachur Rozak. Tinggal dan Lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Guru  Bahasa Indonesia sekaligus pegiat literasi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Karyanya tersiar di Fajar Makasar, Radar Mojokerto dan Radar Jombang. Email: arrozak88@gmail.com.

 

Arsip Cerpen di Indonesia