Babu Cap Mantu

“Eh, Dita sudah datang. Dita, ini Ibu, Bapak dan Agung ada acara keluar, tolong kamu di rumah, ya. Tolong jagain rumah, ya. Tidak lama, kok. Siang juga palingan sudah pulang. Nanti kalau sudah pulang, baru deh, kamu sama Agung bisa pergi jalan-jalan,” kata Ibu Agung dengan ramah.

“Iya, Bu,” jawab Dita. Sedikit kecewa karena ternyata dia tidak diajak pergi bersama keluarga Agung. Tapi kekecewaannya sedikit terobati dengan janji kalau nantinya Agung akan mengajaknya jalan-jalan.

Setelah Agung dan kedua orang tuanya pergi, Dita sebenarnya ingin duduk-duduk sambil menonton TV, namun karena keadaan rumah Agung tampak berantakan, maka Dita mulai membereskan rumah itu. Menyapu, mengepel, membereskan pakaian yang berantakan, dan mencuci piring di dapur yang ditinggal begitu saja setelah Agung dan keluarganya makan sebelumnya.

“Dita???” ketika Dita mengepel teras rumah Agung, tiba-tiba Novi dan beberapa temannya muncul. Tentu saja mereka tampak kaget melihat Dita sedang bersih-bersih di rumah Agung. Padahal mereka tahu kalau Dita paling malas disuruh bekerja membantu orang tuanya di rumah. Lalu, mengapa sekarang dia malah mengerjakan pekerjaan bersih-bersih di rumah Agung.

“Hai, semua!” sapa Dita sambil mengusap peluh yang bercucuran di dahinya.

“Apa yang kamu lakukan di sini, Ta?” Tanya teman-temannya heran.

“Oh, ini. Aku disuruh jagain rumahnya Agung karena mereka sekeluarga sedang ada acara. Daripada diam saja ya, aku bersih-bersih saja,” jawab Dita. Wajahnya tampak memerah, kepanasan dan kelelahan.

“Mereka yang suruh?”

“Enggak. Tapi aku sudah terbiasa, kok. Tiap aku ke sini ya, selalu begini. Aku bantu mereka bersihkan rumah, masak, nyuci…”

“Ditaaaaa….!!!!” Semua temannya berteriak sebelum Dita menyelesaikan bicaranya. “Kamu ini pacarnya Agung, calon mantu di keluarga ini, atau babu di sini?”

“Apa maksud kalian?” Dita tampak tidak suka.

Arsip Cerpen di Indonesia