Babu Cap Mantu

“Ta, kamu sadar, nggak? Kamu ini sudah dimanfaatkan oleh mereka. Kamu ini terlalu polos. Kamu ini sudah diperlakukan seperti babu. Kalau Agung benar-benar cinta sama kamu, kalau keluarganya ingin kamu jadi mantu mereka, tak mungkin mereka membiarkan kamu bekerja seperti ini sementara mereka enak-enakan pergi. Apalagi kamu belum resmi jadi mantu mereka, baru pacaran sama Agung. Enak, dong, mereka tidak perlu gaji pembantu, kan, sudah ada kamu, calon babu mereka,” Novi menjelaskan panjang lebar yang didukung teman-temannya.

Dita diam, tertunduk. Benar juga kata mereka. Selama ini, dia setiap kali datang ke rumah Agung selalu mengerjakan pekerjaan yang tidak seharusnya dia lakukan itu. Bahkan sekarang mereka enak-enak pergi dan meninggalkan dia jaga rumah seorang diri dan berharap dia membereskan rumah yang berantakan. Lha, dia ini calon mantu, atau calon babu? ***

 

Fery Lorena Yanni. Bimbel Gladika, Jl. Cemara IV RT 05 RW 06 Sidorejo Lor, Salatiga 50714.

Arsip Cerpen di Indonesia